Kamis, 12 November 2009

Di Balik Nama "Bestralen"

Bestralen.
Di suatu pagi, sembilan tahun yang lalu, saya menemukan kata ini dalam sebuah kamus Bahasa Belanda terbitan tahun 1960-an. Secara sederhana, lekisografer kamus itu memberi definisi leksikal untuk kata tersebut "menyinari". Kata "bestralen" ini memiliki phoneme yang enak untuk dilafalkan dan secara semantik memiliki makna yang ternyata begitu mendalam bagi saya yang sedang menyempurnakan perjalanan kehidupan saya. Sejak saat itulah "bestralen" menjadi entri yang begitu penting dalam linguistic reportoire saya. Semakin banyak pengalaman hidup saya, semakin dalam saya memaknai kata tersebut. Maka dengan penuh kesadaran, saya mematenkan kata tersebut di dalam benak dan perilaku saya sehari-hari, hingga lahirlah sebuah prinsip hidup yang begitu mendalam: segala apa yang saya pikirkan dan lakukan harus mampu membawa saya ke jalan cahaya. Jalan cahaya, dalam bahasa sufistik, merupakan jalan kebenaran yang membawa kebahagiaan yang hakiki. Jalan cahaya adalah jalan yang dinaungi atmosfir spiritual yang agung, jalan yang dibangun dengan rasa penyerahan total kepada Sang Pencipta, dan jalan yang hanya akan mewujud bila dipahami lewat gerbang ilmu pengetahuan. Ilmulah yang membawa kita ke gerbang cahaya. Ilmulah yang menuntun kita untuk mengenal Sang Maha Cinta. "Bestralen" adalah hakikat sang surya yang tak pernah lelah menyinari semesta. Semoga ini menjadi mozaik hidup berharga yang bisa menuntun saya ke jalan cahaya. Semoga...

1 komentar: