Ada perasaan lelah yang membuncah ketika aku meninggalkan kampus. Pemicu kelelahan ini lebih banyak disebabkan karena faktor eksternal: mahasiswa yang dalam DNA-nya sudah tercemari racun-racun kemalasan, mahasiswa yang merasa dirinya lebih penting ketimbang apa yang dilakukan atau yang diucapkannya. Terlalu lelah...(seperti judul lagu EVO band). Tapi biarlah semua kelelahan itu berlalu. Kan kubiarkan semua "external factor" itu lenyap ditelan hujan yang baru saja meluruhkan semua dahaga. Aku adalah aku. Aku adalah Lala Bumela, seorang manusia yang dalam DNA-nya mengalir darah darah kaum pemikir dan pejuang yang berani membentangkan syair-syair kebenaran. Aku adalah seorang penyandang sabuk hitam yang selalu konsisten dengan apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukannya. Aku adalah seorang muslim yang tahu batas di mana aku harus memosisikan diri sebagai kawan atau lawan. Aku adalah aku. FULL STOP.
Suatu saat seorang sahabat yang kebetulan juga guru spiritualku sempat menanyakan suatu hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya: "Faktor apa yang membuat kamu kecewa dengan profesi yang kamu miliki?" Secara spontan saja aku menjawab pertanyaan dia dengan memberikan beberapa daftar kekecewaan yang (mungkin) melandaku sebagai seorang dosen: (1) menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak memiliki komitmen utuh dalam manjalani studinya; (2) menemukan fakta bahwa banyak mahasiswa yang melakukan kegiatan akademiknya asal-asalan, yang berimbas pada merosotnya pencapaian mereka; (3) melihat kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang "suranyeh" hanya pada saat mereka terdaftar pada mata kuliah yang aku pegang.
Setelah mengemukakan ketiga hal itu, sahabatku tersenyum dan bertanya balik "Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasi kekecewaan itu?" Aku menjawabnya dengan sederhana: "I leave everything to God". Lalu ia kembali tersenyum, namun dengan derajat kepuasan yang berbeda. Percakapan kami terhenti untuk beberapa saat saja hingga aku memutuskan untuk menambahkan pernyataan berkaitan dengan jawabanku sebelumnya. Aku selama ini berusaha untuk tidak dikendalikan oleh berbagai faktor eksternal yang bisa menhambat laju hidupku. Justru akulah yang harus mengendalikan segalanya. "I am the one who controls my world". FULL STOP. Sahabtku pun hanya tersenyum kecil seraya menambahkan pernyataan bahwa pada titik itu aku telah memahami makna sebenarnya dari menjadi diri sendiri. Ketika aku menyadari bahwa akulah pusat duniaku, aku telah mencapai titik kesadaran yang seimbang. Bila tidak, maka faktor-faktor eksternal itu dapat menyeret aku ke dalam jurang kekecewaan yang dalam dan akut. Aku tak mau terjerembab pada apa yang orang lain pikirkan tentang aku. Aku hanya ingin menjalani kehidupan seperti yang aku rencanakan dan cita-citakan. Dan aku yakin Allah pun telah begitu memberkati aku karena selama ini aku menjalani hidup seperti yang aku kehendaki. Alhamdulillaah...FULL STOP.
Dalam kamus kehidupan seorang darwis, kehidupan ini hanya digantungkan kepada Allah semata, terlepas seberapa berat beban dan tantangan yang ia hadapi. Allah-lah yang menciptakan manusia dan beragam persoalannya, dan DIA pun memiliki solusi untuk setiap permasalahan itu. Namun, sebuah solusi hanya akan mewujud bila dan hanya bila kita mau berpikir keras. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi dan terselesaikan atas rido-Nya. Jika aku memikirkan, mengucapkan, dan melakukan hal yang benar maka tak ada satupun alasan bagiku untuk merasa takut. Bila aku menjunjung kebenaran dan banyak orang tidak menyukainya. Fine, it is NOT a big deal at all. Ketika aku menjunjung tinggi sebuah kejujuran dan banyak orang memusuhiku. Fine, it is NOT a big deal at all. Aku adalah aku. FULL STOP. Aku hanya ingin menjalani kehidupan ini dengan cara yang sederhana: menjunjung kebenaran dan menghargai kejujuran. Tanpa kedua hal itu, sangat mustahil aku bisa mencapai sebuah kebahagiaan yang hakiki. FULL STOP
Rabu, 18 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar