Senin, 16 November 2009

ETHER

Ether merupakan istilah filosofis yang merujuk pada substansi yang mengisi semua ruang (space). Ia menjadi ruh dari sebuah relung jiwa dan ruang kalbu bila kita mempersepsi jiwa dan kalbu sebagai sebuah ruang yang hanya akan bermakna utuh apabila terisi oleh sesuatu (essence). Apalah artinya bumi ini tanpa segala isinya? apakah sebuah buku akan disebut sebagai sebuah buku bila ia tak memiliki substansi di dalamnya? begitu pula dengan kehidupan. Apakah ia akan bermakna bila tidak memiliki ether? "tidak" adalah jawaban mutlak untuk semua pertanyaan tersebut. Berikut ini ETHER yang mengisi ruang-ruang kehidupanku:
Mela Nur Hikmah adalah pendamping hidupku yang selama enam tahun ini menjadi saksi kunci ketika aku bermetamorfosa menjadi seorang manusia yang lebih baik. Ia telah membukakan pintu hati dan pikiranku tentang hidup dan kehidupan. Ia pula yang menanamkan benih-benih cinta yang telah tumbuh menjadi sebuah bentuk keteguahn hati, keberanian, kesetiaan, kepercayaan diri yang terus berkembang, dan kemandirian yang menjadi penanda tingkat kedewasaanku. Ia telah membawaku ke dunia di mana aku bisa melihat diriku lebih dalam. Ia telah mengajakku ke hari-hari di mana kami bisa sangat menghargai setiap waktu yang berlalu dan setiap momen kecil dan besar yang akan menghampiri di masa depan. Ia telah menjadi bagian hidupku. Tak ingin hatiku beralih darinya...
Shanindya Bestralen dan Beryl Benaiah Bestralen adalah nama yang akan kuberikan untuk kedua malaikat kecilku di masa datang (yang akan segera tiba). Meskipun mereka belum terlahir ke dunia ini, ruh mereka nampaknya telah hadir menemani setiap detik kehidupanku. Bukan saja lewat mimpi mereka hadir untuk menemaniku, tapi juga lewat deru nafas dan langkahku. Sulit untuk menjelaskan secara ilmiah kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku. Kedua nama maliakat kecilku selalu terngiang di kalbuku dan mengisi penuh ruang kalbuku. Mereka menjadi pemicu utama yang membuat kehidupanku mencapai titik equilibrium. Di titik ini aku mereguk kebahagiaan hakiki sebagai seorang manusia yang terlahir untuk menghargai setiap prosess kehidupan. Shanindya dan Beryl akan menjadi matahari bagiku dan Mela kelak. Mereka akan menyinari kami seperti layaknya sang surya menyinari semesta. Semoga...
Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) lebih dari sebuah perguruan Karate bagiku. Ia merupakan tempat di mana aku merasa terlahir kembali. Di INKAI aku memiliki kesempatan untuk lebih jauh mengenali batas-batas kekuatan dan kelemahanku. Aku bukan hanya diajari bagaimana tubuh ini harus bergerak menurut prinsip-prinsip Karate yang benar, tapi juga diajari bagaimana seorang Karateka semestinya menjalankan kehidupannya. Di INKAI aku bisa mengenali batas keberanian dan ketakutanku. Aku paham apa arti sebuah kemenangan dan kekalahan; aku paham bagaimana rasanya mencapai titik tertinggi dari potensiku sebagai manusia. Karate telah meanjadi bagian hidupku sejak aku berumur 13 tahun. 14 tahun sudah aku mempelajari seni bela diri ini. Tidak pernah ada kata lelah dan bosan yang menyelimuti kalbu ini. Semakin aku memahami makna Karate yang sesungguhnya, semakin terasa indah hidup ini. Aku telah berikrar untuk tidak pernah melupakan INKAI meskipun aku berada pada titik terendah kehidupan. Aku pun telah berikrar untuk mengorbankan segala apa yang aku miliki agar INKAI (Kuningan) tetap berdiri tegak dan mencapai kejayaan yang selama ini aku cita-citakan. Semoga...

1 komentar:

  1. ETHER...kata yg sarat makna...setiap orang tentu memiliki ether, tp menurut ku ether mu begitu berharga karena semuanya lah sumber pemicu semangat hidup yg tdk akan pernah mati! mel janji akan selalu berusaha menjadi ether-Mu yg terus mendukung dan memicu semangatmu tuk wujudkan semua mimpi-mimpi besar kita:-)..Sha & Ryl malaikat kecil kita jg selalu mengisi setiap relung hidup dan menjadi sumber cahaya dalam kehidupan kita kelak:-)

    BalasHapus