Senin, 30 November 2009

Firman Pertama

Iqra! Bacalah!
Telah berjuta kali firman Allah ini dukmandangkan terutama dalam berbagai konteks pendidkan secara luas. Namun, sejauh ini nampaknya firman Allah yang pertama ini tidak melekat di kalbu baik peserta didik dan pendidik itu sendiri. Ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan dan sangat disayangkan...
Sebagai seorang muslim yang tertarik dalam bidang Pragmatics, saya melihat firman pertama Allah tersebut dari dua sisi. Pada sisi yang pertama, saya menafsirkan firman tersebut sebagai fondasi membangun ketauhidan (dan tentu saja ketakwaan). Pertanyaan relevan yang bisa diajukan terhadap proposisi ini adalah: (1) Kenapa aktifitas membaca yang justru dijadikan firman pertama? (2) Kenapa ayat pertama yang turun itu tidak memerintahkan manusia untuk syahadat, sholat, puasa, atau bahkan naik haji? (3) Konteks apa yang hendak dibangun dengan diturunkannya ayat ini?
Saya bukanlah ahli tafsir ataupun ahi fikih, namun saya mencoba memahaminya secara sederhana saja. Ayat ini menandai kerasulan Muhamad SAW sebagai utusan Allah. Dalam jejak rekamnya, ayat ini diturunkan Allah kepada nabi Muhamad melalui malaikat Jibril. Ayat ini datang sebelum Muhamad ditugaskan untuk menyebarluaskan agama Islam yang berlandaskan ketauhidan: percaya dan menyerahkan diri kepada satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Hal ini jelas mengindikasikan bahwa Allah Sang Maha Esa mengingikan Muhamad untuk bisa membaca agar pesan-pesan-Nya dapat didakwahkan dan diterima oleh manusia lain. Pesan utama dari turunya ayat ini adalah bahwa ketakwaan harus dibangun denagn membaca. Kenapa membaca? jawabannya adalh tidak lain tidak bukan karena membaca (dan menulis) adalah aktifitas utama dalam upaya mencari ilmu pengetahuan dan pencerahan. Oleh karena itu, ketakwaan harus didasarkan pada ilmu. Hanya dengan menguasai ilmu tentang Allah-lah maka ketakwaan bisa terbangun. Ketakwaan yang tidak dikonstruksi dengan ilmu hanyalah sesuatu yang semu. Sesuatu yang tidak memiliki hirarki spiritual yang bermakna.
Pesan lain yang dari peristiwa turunnya ayat pertama ini adalah bahwa sebuah kebudayaan juga harus didasarkan pada aktifitas literat: membaca, menulis, meneliti. Setelah Muhamad menjadi literat, barulah beliau ditugaskan Allah Sang Maha Esa untuk menyebarluaskan tentang Islam sebagai rohmat kepada seluruh alam. Melalui perjuangan tanpa lelah selama dua abad lebih, Muhamad merubah kota Mekkah dan Madinah menjadi pusat peradaban dunia. Setelah beliau wafat pun, kegairahan umat Islam yang gandrung pada aktifitas baca-tulis-teliti terus berlanjut. ini dibuktikan dengan adanya penulisan hadits dan quran yang diinisiasi oleh para sahabat nabi dan para pengikutnya. Andalusia dan Persia adalah representasi sempurna di mana kebudayaan Islam berbasis literasi menjelma menjadi kejayaan Islam yang berlangsung hampir kurang lebih 500 tahun. Meskipun kebudayaan dan kejayaan Islam tidak lagi mendominasi warna dunia posmodern, kita masih tetap bisa melihat fakta bahwa bangsa berbasis literasi yang kental sekarang menjadi penguasa dunia. Tengoklah Amerika Serikat & Kanada, Eropa Barat, dan Australia. Meskipun bukan negara Islam, dengan mendasarkan aspek-aspek kehidupan lewat literasi yang kuat, para penduduk di negara-negara tersebut mampu menikmati kemakmuran dan kedigdayaan intelektual. Tidak mengherankan jika negara-negara tersebut menjadi ladang gula bagi para imigran dan pencari suaka yang bermimpi untuk mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik.
Dari sisi yang lain, saya melihat firman pertama yang Allah turunkan kepada nabi Muhamad itu sebagai penanda otoritas dan kekuasaan-Nya yang tidak berbatas. Firman tersebut digramatikalisasi dalam bentuk imperative (kalimat perintah). Dalam Pragmatics, tindak tutur (speech act) ini dikategorikan sebagai directive. Kalimat perintah yang dikonsruksi seperti ini memunculkan sebuah tafsiran spiritual baru bagi saya: Allah SWT secara tegas memabngun identitas-Nya sebagai sebuah entitas yang Maha Kuasa. Dalam sosiologi komunikasi, sebuah declarative yang dikonstruksi dengan sederhana seperti "Iqra" mengindikasikan dengan kuat bahwa si pembicara memiliki power yang (jauh) lebih besar daripada pendengar. Sebagai penguasa langit dan bumi, Allah memiliki kekuasaan yang tak berbatas. DIA memiliki hak penuh atas makhluknya. DIA memiliki hak penuh atas segala peristiwa yang ada di langit dan di bumi. DIA adalah penguasa dari segala penguasa. Raja dari segala raja.
Lalu, dari locution "Iqra!" ini, apa yang bisa kita pahami?
Dalam Pragmatik, yang menjadi bahasan utama sebuah tindak tutur adalah illocutionary act alias intensi dari ujaran yang diproduksi oleh si pembicara. Ilokusi dari firman pertama Allah kepada Muhamad adalah bahwa manusia (khusunya yang telah berikrar tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan-Nya) harus melandaskan hidup dan kehidupannya pada aktifitas baca-tulis-meneliti. Hanya dengan fondasi ilmu pengetahuanlah iman keimanan dan ketakwaan bisa terbangun dan terpelihara. Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah manusia mampu mencapai derajat kehidupan yang tinggi seperti janji Allah bahwa DIA akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Ini adalah sebuah janji Tuhan yang tidak mungkin DIA langgar. Lewat tindak tutur directive ini, Allah sebenarnya menegaskan bahwa kebahagiaan yang hakiki hanya bisa tercapai dengan menguasai ilmu pengetahuan. Tentu saja ilmu pengetahuan mesti didasarkan pada ilmu tentang Allah (Hakikat Allah sebagai penguasa langit dan bumi. Dengan memahami hakikat Allah, kita sebenarnya sedang berupaya untuk meretas jalan menuju tempat terindah di semesta: surga. Bacalah, bacalah, bacalah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar