13 tahun lagi aku akan genap berumur 40 tahun. Pada tanggal 31 Desember yang akan datang aku akan berusia 27 tahun. Ada sebentuk kesadaran yang mewujud dalam bentuk pernyataan sederhana: "hidup ini ternyata terasa begitu pendek". Rasanya baru kemarin sore aku bermain kasti dan sepak bola di lapangan kecil dan becek di dekat rumahku yang dulu. Rasanya baru kemarin aku merasakan menjadi juara karate. Rasanya baru kemarin sore aku bermain sebagai "King Creon" dalam drama Antigone...
Kini semua telah berubah...aku bukan lagi seorang anak kecil yang gemar berkelahi. Aku bukan lagi seorang anak lelaki yang selalu merengek ingin dibelikan bermacam-macam mainan. Kini aku telah bermetamorfosis menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki mimpi-mimpi besar. Kini aku adalah seorang lelaki yang tahu akan hak dan keajibannya. Aku tak lagi merengek untuk dibelikan mainan. Kini aku telah menyelsaikan studi masterku sebelum berusia 27 tahun. Kini aku sedang mempersiapkan untuk menjadi seorang suami dan ayah yang hebat bagi istri dan anak-anakku. Kini aku punya duniaku sendiri di mana aku punya otoritas menentukan arah dan jalan hidupku. Kini aku adalah salah satu orang yang paling beruntung di dunia:)....betapa semua berlalu dengan begitu cepat.
Tiga belas tahun lagi aku berumur 40 tahun. Kalimat ini terus mengiang di telingaku dalam beberapa terakhir. Mungkin ini disebabkan karena aku berkontemplasi terlalu jauh, merunut masa-masa yang telah aku lalui. Pepatah mengatakan bahwa hidup dimulai ketika kit aberumur 40 tahun. Pepatah ini nampaknya punya makna yang begitu mendalam bagiku. Kebermaknaan akan angka 40 tahun itu aku formulasikan dalam banyak pertanyaan: (1) Apa yang akan dan telah aku capai sebelum aku menginjak usia 40?; (2) Apa yang akan aku siapkan untuk diriku sendiri dan keluargaku selama 13 tahun itu?; (3) Apakah aku mampu menggondol gelar doktor (Ph.D) sebelum aku berusia 35 tahun?; (4) Di mana aku akan membangun rumah impian bagi aku dan keluargaku? (bukan rumah kecil yang kami miliki di kawasan Banjaran, Bandung); (5) Apakah aku mampu menglirkan DNA INKAI pada raga anak-anakku kelak (INKAI butuh penerus yang potensial); (6) Apakah anak-anakku mewarisi segala yang telah aku bangun dan cita-citakan bersama pasanganku?; (7) Apakah aku bisa menulis satu atau beberapa buku selama tiga belas tahun?; (8) Apakah aku bisa memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dengan peneliti asing dan mengikuti seminar di luar negeri sebelum aku beranjak 40 tahun?; (9) Apakah aku mampu memiliki gelar profesor sebelum aku berumur 45 tahun?
kesembilan pertanyaan ini telah mengakar kuat dalam batinku. Aku hanya memiliki satu harapan besar bahwa semua pertanyaan itu bisa aku jawab dan lalui dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Manusia hanya bisa berencana & Allahlah yang menentukan segalanya. Aku sangat meyakini hal ini. Namun, aku memiliki keyakinan besar bahwa bila semua usaha keras yang diiringi oleh doa dan ketulusan akan berbuah manis. Tak ada sedikit pun keraguan yang menghalangiku untuk menkmati semua proses kehidupan ini. Aku ingin merayakan setiap proses kehidupan ini dengan senyuman dan penyerahan total kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah.
Selasa, 24 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar