Minggu, 22 November 2009

Satu Hari Saja

Satu hari saja biarkan aku merayakan kesendirianku. Tak ada rutinitias perkerjaan yang membelenggu. Tak ada teksbuk linguistik yang "meminta" tuk dibaca. Tak ada jadwal melatih karate yang melelahkan raga. Satu hari saja biarkan aku menikmati sebentuk kehidupan yang soliter. Dengan menyendiri aku bukan hanya ingin sejenak menghela nafas dari sejuta aktifitas yang menggunung di minggu kemarin, tapi juga ingin mengenal dan menggali lebih dalam siapa diriku ini.
Hari ini aku ingin melakukan hal-hal sederhana yang selama dua mingu ini sedikit terabaikan: menyapu halaman rumah, membersihkan kandang kelinciku, memberi makan keedua kelinciku dan seekor burung hantu jenis Tyto Alba yang baru saja menghuni kadang di rumahku sejak dua hari yang lalu, membuang dan membakar sampah yang menggunung di dekat pelataran pemakaman desa. Kegiatan-kegiatan sederhana lain yang aku sangat rindukan adalah membaca majalah National Geographic dan Sport Week edisi terbaru sambil ditemani jus jeruk atau strawberry dan musik alternative rock yang menderu dengan dinamis.
Kegiatan-kegiatan sederhana ini telah mengisi hari-hariku dan menjadi sebuah rutinitas wajib sejak aku tinggal di Bandung. Di sela-sela aktifitasku biasanya aku menghabiskan waktu di sungai atau hutan kecil hanya untuk menikmati sebentuk kehidupan liar yang kian tergerus oleh pemanasan global. Dengan melakukan banyak kegiatan sederhana ini aku semakin bisa menikmati hidupku. Tak perlulah aku pergi ke mall atau diskotik. Yang aku inginkan hanyalah sebentuk aktifitas soliter yang menyenangkan di satu hari saja.
Pekerjaanku sebagai dosen cukup demanding. Untuk menghasilkan sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi aku harus menginvestasikan begitu banyak waktu untuk belajar dan berlatih. Tanpa sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi tidak mungkin ada harapan untuk menciptakan sebuah generasi yang lebih baik. Selain itu, aku juga diwajibkan untuk mmeriksa tugas-tugas mahasiswa yang bertumpuk bagai cucian kotor saja. Sangat melelahkan memang. Untuk melihat keberhasilan sebuah proses pembelajaran, aku harus melihat proses mahasiswa belajar dengan memberikan tugas yang sifatnya "staged" atau bertahap. Ini memungkinkan aku mengukur dan menganalisa tingkat pemahaman mereka secara lebih mendalam. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah pekerjaan yang berat. Ketika ada sekitar 400-an "paper" atau makalah pendek menumpuk di meja kerjaku, aku hanya bisa tersenyum lirih dan berbisik pada diriuku sendiri: "kapan aku bisa menyelesaiakn pekerjaan yang membutuhkan kerja keras otak ini ?" Setelah memebereskan tugas akademik seperti ini aku merasa begitu lelah. Tingkat kelelahannya melebihi berlatih karate selama 3 jam. Bila kelelahan telah mewujud, tidur saja tidak cukup untuk memulihkan staminaku. Aku butuh satu hari saja untuk "memanjakan" jiwa dan ragaku. Ketika raga ini telah mencapai titik keseimbangan yang baru, maka aku siap untuk berpacu dengan waktu. Aku pun tak ragu untuk menikmati untaian konsep-konsep linguistik yang membutuhkan daya pikir yang luar biasa berat. Satu hari saja, izinkan aku menikmati duniaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar