Kamis, 19 November 2009

Hujan

Selamat datang wahai sang hujan...selamat datang di bumi yang tak lagi muda...janganlah terkaget-kaget bila kau merasa bahwa bumi ini tak lagi sama. Memang bumi ini tak lagi sama seperti di masa-masa yang lampau. Janganlah terheran-heran bila kau melihat bahwa para penghuni bumi kini tak lagi menghormati tempat di mana mereka berpijak. Manusia memang kini bukanlah manusia-manusia yang pernah kau kenal dulu. Kini mereka telah berubah menjadi makhluk-makhluk yang menakutkan. Mereka saling terkam, saling bunuh, dan mereka pulalah yang menghancurkan pilar-pilar kehidupan bumi: hutan, sungai, samudera, dan angkasa raya.
Kau telah lama kunanti. kau terlalu lama menghilang dari siklus kehidupan kami. Kini kau hadir membawa secercah harapan. Kau hadir dengan menyemaikan benih-benih kehidupan yang baru. Semua penghuni bumi bersuka cita. Mereka berpesta merayakan kehadiranmu. Ketika mereka bersuka cita melepas dahaga mereka, aku hanya tertegun lesu. Aku tak mau terjebak dalam euforia yang semu. Aku hanya ingin bicara padamu...Aku ingin menyentuhmu...aku ingin bersujud di tanah yang kau basahi...aku ingin meneriakkan syair-syair ilahiah hanya ditemani olehmu...hanya olehmu...meskipun raga ini menggigil, meskipun tetesan-tetesanmu merasuk kedalam nadiku, aku akan bahagia karena sudah terlalu lama aku menanti kehadiranmu...
kehadiranmu adalah sebuah keindahan yang hakiki. Kau adalah air-air magis. Kaulah yang memberi arti akan kehidupan ini...
Namun, tak ada seorang pun yang tahu kapan kau akan pergi lagi. Tak ada yang tahu kapan kau akan kembali lagi. Tak ada yang tahu apakah kehadiranmu mampu menjawab segala tanya. Tak ada yang tahu apa kau akan mengehempaskan orang-orang paling kotor di muka bumi ini...aku hanya berharap bahwa di saat kau hadiraku bisa menikmati keindahanmu. Aku hanya ingin mendengarkan alunan musik kehidupan yang kau mainkan. Selamat datang wahai sang hujan...tinggallah barang sejenak di sini bersamaku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar