Jumat, 13 November 2009

Meretas Realitas Lewat Identitas

Selamat pagi semesta.
Pagi ini terlalu indah untuk dilewatkan. Sidaraja, lokasi rumah baru saya, telah memberi saya energi kehidupan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Kicauan burung liar, suara kodok yang menderu, dan udara yang begitu bersih. Saya sangat bersyukur atas apa yang saya alami dan rasakan selama tiga bulan ini di Sidaraja, Kuningan.
Keindahan pagi ini saya isi dengan menuliskan sesuatu yang ada di benak saya. Saya teringat akan pepatah ini "Ideas have wings", yang berarti bahwa ktia harus menuliskan apa yang ada di benak kita sebelum gagasan-gagasan yang kita punya terbang entah ke mana. Saya hanya ingin berbagi bahwa saya kelak akan menggunakan nama "bestralen" untuk nama belakang anak-anak saya. Nama ini terdengar begitu "catchy" karena mudah untuk dilafalkan, namun memiliki makna yang begitu mendalam. Saya ingin sekali mendapat pencerahan baru dari setiap pengalaman baru dan dari apa yang saya miliki. Saya berharap bahwa kehadiran malaikat-malaikat kecil saya dapat meningkatkan pemahaman saya atas hidup dan kehidupan yang saya jalani.
Sedikit nampak absurd memang ketika saya yang baru mau meinkah tapi sudah memiliki nama-nama untuk (calon) anak saya. Tapi, saya melihat ini sebagai upaya serius saya dalam merencanakan sebuah desain hidup yang lebih gambalang dan detil. Secara linguistik, nama memang tidak memberi definisi terhadap si pemilik naman, namun saya selalu percaya bahwa nama membentuk identitas kita sebagai manusia. Identitas merupakan fitrah yang alamiah dan melekat sampai sang pemilik nama tersebut meninggalkan dunia ini. Hal yang paling esensial yang bisa digali dari hal ini adalah bahwa sebuah nama memberi dimensi personal dan spiritual yang berdampak pada pemahaman si pemlik nama terhadap hidup dan kehidupannya.
Ketika seseorang tidak mampu memahami secara utuh arti di balik namanya, maka dimensi personal dan spiritualnya tidak akan terbentuk. Sekalipun ia terbentuk, tapi konstruksinya tidaklah kokoh. Akibat terburuk dari hal ini adalah keadaan di mana kita tidak tahu siapa kita, apa yang harus kita lakukan, kenapa kita kita dilahirkan, dsb. Ini menunjukkan bahwa pemahaman ktia atas sebuah identitas (diri) membentuk persepsi kita atas realitas "dunia" kita. Untuk memahami dunia secara utuh kita sebagai manusia dituntut untuk memiliki pemahaman yang utuh tentang dirinya. Untuk memahami identitas secara utuh, kit aharus merunut sejarah kita dilahirkan dan mencari kebenaran atas apa yang diharapkan orangtua kita dengan memberi nama kita nama tertentu. Pemberian nama, dalam pandangan saya sebagai peminat Systemic Linguistics, memiliki tujuan. Tidak ada satu pun penciptaan yang bersifat "purposeless" atau tanpa tujuan. Selalu ada motif dan tujuan tertentu ayng menyelubungi sebuah prosess penciptaan. Begitu pula dengan pelabelan sebuah entitas.
Pemahaman akan realitas dengan menggunakan teropong identitas tentu saja bukanlah perkara mudah. Kita harus melalui proses yang begitu panjang untuk memahami siapa kita dan di mana kita berada, dan proses itu harus benar-benar dinikmati. Titik akhir dari proses memahami diri adalah terbentuknya kawah kesadaran atas esensi kita sebagai makhluk. Merupakan kenikmatan yang luar biasa ketika kita bisa melihat diri secara tajam dan utuh. Dari sinilah kehidupan mesti dimaknai. Dari sinilah kita meretas jalan kehidupan yang penuh makna. Semoga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar