Senin, 16 November 2009

YLYT

Senja yang muram telah dipeluk sang malam...bintang malam belum mau bercumbu dengan sang bulan...binatang malam nampaknya belum mau memulai pesta untuk merayakan sebuah bentuk kehidupan...hanya musik bernuansa progressive rock yang menemaniku petang ini. Tak satupun buku linguistik atau novel yang aku ingin sentuh petang ini. Entah kenapa. Mungkin kalbu ini ingin aku melakukan sesuatu yang lain: berkontemplasi. Namun, capuccino panas nampaknya belum menggugah seleraku untuk bersegera berkontemplasi. Sebenarnya aku bisa berkontemplasi kapan saja, tanpa harus ditemani capuccino ataupun alunan musik yang mengalun menemani aliran nafasku. Malam ini terasa sedikit berbeda. Dan perbedaan itu disebabkan karena sebuah jam dinding "reverse clock" yang bersimbolkan numerik arab, lafadz syahadat, dan ikon sebuah mesjid yang memancarkan cahaya hijau dan biru bila diliat dari sudut tertentu di siang hari. Ada sesuatu di dalam jam dinding itu. Ia membuatku berfikir dan berfikir tentang apa yang telah aku lalui dan capai selama ini.
"Reverse Clock", jam dinding yang arah putarannya ke sebelah kiri mengikuti numerik arab, memang nampak "prominent" di kamar tidurku. Dengan nuansa hitam dan perak, ia melengkapi dengan sempurna nuansa warna furnitur yang berdiri ajeg di ruang tidurku. Ia menjadi spesial bukan karena arah putrannya yang tidak umum, tapi ia seperti ingin mengatakan padaku bahwa aku harus melihat ke belakang dan mensyukuri atas apa yang telah aku raih selama ini.
Semakin lama aku memandangi jam dinding itu, semakin aku terbawa ke masa lalu. Serpihan-serpihan masa lalu terserak dalam museum memoriku. Mereka terbentang bagai sebuah lanskap kehidupan yang begitu indah. Meskipun ada beberapa serpihan masa lalu yang bernuansa agak "kelam", aku tetap mengagapnya sebagai mozaik kehidupan penting yang memberi warna tersendiri bagiku. Beberapa serpihan masa lalu yang sempat terkuak pada saat aku berkontemplasi adalah momen-momen yang terekam sekitar delapan tahun lalu:
Bulan April 2001 untuk pertama kalinya aku menjadi seorang karateka INKAI yang berprestasi di ajang FORKI CUP 2001 yang diselenggarakan di GOR BIMA Cirebon. Aku mendapatkan medali emas untuk kelas Kumite Putera U-17 dengan mengalahkan seorang karateka Goju Ryu dari Cirebon yang berpredikat sebagai juara Jawa Barat di tahun sebelumnya. Di pertandingan final, aku berhasil menyarangkan lima pukulan yang diawali dengan harai. Aku berhak menjadi juara karena aku berhasil mengumpulkan poin 8-0. Lawanku tak bisa berbuat banyak ketika aku melakukan serangan yang bertubi-tubi. Latihan kerasku yagn diiringi doa, kesungguhan, dan keberanian ternyata berbuah manis:).
Bulan Juli 2001 aku mendapat surat penerimaan mahasiswa baru lewat jalur PMDK pada jurusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indoensia, Bandung. Setelah serangkaian tes dan wawancara yang menegangkan akhirnya aku mendapat tempat untuk melanjutkan pendidikan sarjanaku di sebuah universitas dan jurusan yang tepat. Hal ini menjadi istimewa karena aku mendapatkan apa yang dulu aku inginkan: kuliah di Bandung pada jurusan Sastra Inggris. Selain itu, aku bersukacita karena dari sekitar 650 siswa yang mendaftarkan diri lewat jalur PMDK UPI, hanya 14 orang saja yang diterima, dan aku adalah salah satunya:) Aku melalui masa studi yang begitu berat selama 4,5 tahun dan lulus dengan predikat cum laude:)
Agustus 2005 aku berperan sebagai "King Creon" dalam drama Yunani kuno berjudul "Antigone". Dalam pementasan drama berbahasa Inggris ini aku berperan sebagai protagonis. Selama proses produksi yang memakan waktu selama hampir 4,5 bulan aku juga merangkap sebagai asisten sutradara. Pementasan drama ini dianggap sukses karena ternyata pementasan "Antigone" ini baru ditampilkan dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya di kawasan Asia Tenggara dalm kurun waktu kurang lebih 40 tahun terkahir. Audience yang ikut menikmati pementasan drama ini bukan datang bukan hanya dari kelangan mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi lain saja, tapi juga ahli drama dari Bandung dan beberapa penutur bahasa Inggris dari Australia dan Amerika. Pementasan yang berdurasi 3 jam di Gedung Rumentang siang itu menjadi hal yang bersejarah bagiku yang belum pernah terliabt aktif pada sebuah pementasan drama amatir maupun profesional.
Januari 2006 aku berhasil menggondol sabuk hitam INKAI lewat ujian yang menguras kekuatan fisik dan mental. Akhirnya setelah sekian lama aku berlatih Karate, aku bisa menyempurnakan diri sebagai seorang karateka. Tak ada sedikitpun luka ketika aku meninggalkan tempat ujian, hanya ada perasaan lelah yang segera terobati ketika pertama kalinya aku memasang sabuk hitma itu di tubuhku:) Gerbang kehidupan baru sebagai seorang "blakbelter" pun terbuka lebar.
April 2006 wisuda sarjana ayng penuh hiruk pikuk. Ribuan orang datang berjejalan sperti di Mina, Arab Saudi hanya untuk menyaksikan para wisudawan dan wisudawati keluar dari hall. Begitu melelahkan...ijazah S1 dengan predikat cum laude pun aku bawa pulang dengan sejuta harapan...
September 2006 aku memulai karirku sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kuningan (UNIKU). Menjadi dosen adalah salah satu keinginan besarku. Tidak ada sedikitpun keraguan yang menghalauku untuk menadi seorang dosen. Kini setelah tiga tahun lebih au menancapkan jejak kakiku di dunia "perdosenan", bukan "perdukunan, aku semakin yakin bahwa inilah memang duniaku. Ini adalah jalanku. Ini adalah nafasku. Dengan menjadi seorang dosen aku menyempurnakan diriku sebagai seorang yang gandrung dan percaya akan keajaiban ilmu pengetahuan.
Juli 2007-Juli 2009 aku berhasil menyelesaikan studi masterku di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia. Dari sekitar empat ribu aplikan beasiswa master, hanya ada 30 orang yang diterima. Betapa beruntungnya aku. Belum genap 25 tahun usiaku, aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa master di jurusan (paling) bergengsi di Indonesia untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang aku dapat selama mengikuti program studi masterku. Aku bukan saja mendapat pencerahan baru dalam dunia linguistik, tapi juga aplikasinya dalam dunia pengajaran bahasa Inggris ebagai bahasa asing (TEFL) dan dunia penelitian bahasa. Saat ini aku sedang menanti acara wisuda masterku yang akan dislenggarakan pada tanggal 15 Desember 2009, tiga hari setelah aku melaksanakan acara pernikahanku.
Mei 2008 adalah slaah satu hari bersejarah dalam hidupku karena pada waktu itu aku meminang Mela untuk menjaid istriku. Setelah menunggu lima tahun akhirnya aku memutuskan untuk mengarungi hidup dengannya di sisa hidupku. Dan, pada 12 Desember nanti ia akan resmi menjadi istriku untuk yang pertama dan terakhir...aamiin...setelah acara sakral itu kami berdua akan merealisasikan apa yang telah kami bangun selama ini: memiliki momongan dan hijrah ke Australia untuk beberapa tahun ke depan. Dari sejak dulu aku merencanakan untuk mengambil Ph.D-ku di salah satu universitas di Australia. Merupakan sebuah kesempatan yang membahagiakan bila aku bisa mengenyam ilmu di sebuah negara yagn memang sangat menghargai dunia ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan dahagaku akan ilmu linguistik bisa terpuaskan ketika aku mengenyam ilmu di Australia. Namun, tak ada kata puas dalam ilmu pengetahun selama bumi ini berputar. Aku berharap bisa memboyong mereka untuk menemani dan menyaksikan semua detil perjuanganku untuk menjadi seorang ilmuwan sejati dalam bidang linguistik. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa dengan ikhlas dan tanpa henti agar mimpi besar in terwujud dalam waktu dekat. Semoga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar