2012.
Sebuah judul film yang singkat secara simbol. Film ini menguak tentang kehidupan manusia di planet Bumi yang akan berakhir pada tanggal 21-12-2012. Terinspirasi oleh kalender kuno bangsa Maya di Amerika Selatan, film ini memvisualisasikan sebuah bentuk kehancuran planet Bumi: multi tsunami yang terjadi di semua penjuru bumi. Film ini juga nampaknya terinspirasi oleh Noah's Arc karena ada sejenis kapal laut yang besar yang mampu mnampung ribuan orang agar terselamatkan dari bencana tsunami dan kehancuran masif di bumi. Dengan adanya kapal raksasa ini, spesies yang bernama manusia mampu melanjutkan kehidupan dengan kalender semesta yang baru. Inilah sebuah bentuk absurditas yang tidak bisa saya terima. Tak akan ada yang mampu menyelamatkan diri di hari kiamat. Ini yang aku sering dengar dari Al-Quran.
Jujur saja, awalnya aku tidak begitu tertarik akan film tersebut. Namun, saking seringnya aku melihat angka "2012" aku memiliki rasa penasaran yang kian lama kian menggurita. Judul film ini tersimbolisasi secara sederhana dalam bentuk numerik. Secara semiotika, judul film ini mengindikasikan dengan begitu kuat bahwa "akan ada sesuatu yang dahsyat akan terjadi pada tahun 2012". Untuk kepentingan publisitas, judul film tersebut dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan rasa penasaran yang begitu membuncah bagi (calon) penikmat film tersebut.
Dan setelah beres merayakan Iedul Qurban di Jumat pagi aku dan pasanganku berangkat menuju Studio 21 di Bandung Indah Plaza (BIP). Pada waktu itu kami membeli tiket untuk pemutaran film jam 3 karena sangat tidak mungkin bagiku untuk menonton film di saat shalat Jumat dilaksanakan. Kami menunggu lebih dari 30 menit untuk mendapatkan dua tiket film tersebut. Antrian yang panjang itu ternyata tak surut hingga kami meninggalkan BIP pada saat menjelang Magrib.
Banyak temanku yang bilang bahwa plot yang terbangun dalam film itu biasa-biasa saja. Tak ada hal yang menarik yagn bisa dinikmati dari film itu selain dari efek visual dan suara yang berkualitas wahid. Itu kata mereka. Tapi, aku tak sepenuhnya setuju. Ada dua hal yang menarik yang bisa aku gali dari pengalaman menonton film itu. Yang pertama, film itu menjadi referensi batin penting bagiku untuk meningkatkan tingkat spiritualitasku. Ia mengingatkan aku bahwa manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa. Manusia terhebat di dunia sekalipun tak akan bisa terhindar dari hari akhir. Sebagai seorang muslim, aku melihat film itu sebagai media pencerahan saja, tanpa harus percaya bahwa kiamat akan datang pada tanggan 21 Desember 2012. Kalaupun memenag kiamat akan datang pada hari yang diprediksiskan bangsa Maya itu, nampaknya sah-sah saja karena Allah punya hak istimewa untuk menentukan segalanaya. Tapi, pertanyaannya adalah bekal apa yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah kiamat? Kedua, sisi menarik dari film itu adalah kemampuan penulis cerita dalam menggabungkan data penelitian terbaru dengan visualisasi yang cerdas. Berdasarkan data geologis bumi yang aku baca pada beberapa edisi National Geographic, terutama yang membahas tentang perubahan iklim global dan Yellowstone National park, aku berkesimpulan bahwa sang penulis dan sutradara film itu telah secara tepat mengungkap fakta yang tak terbantahkan: bumi sudah menua karena daya dukung alamnya sudah hancur. Inilah salah satu kehebatan para sineas di Hollywood. Mereka melakukan penelitian yang intens mengenai sebuah fenomena sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk visual (film). Mereka tidak asal-asalan membuat naskah. Meskipun ada absurditas yang dimunculkan dalam film itu, aku melihatnya sebagai sebuah bentuk hiburan saja. Sisi fiksi dari sebuah fenomena bisa digali sejauh itu relevan. Apakah itu dapat diterima oleh beberapa kalangan agama tertentu, itu hal lain. Ketika sebuah film mendapat kritikan, maka ia layak mendapat pujian. Tak ada film atau artis yang layak dipuji kalau ia tak bisa atau tak mau dikritik. Ini adalah pernyataan yang pernah dibuat Halle Berry saat ia menerima penghargaan Oscar tiga tahun ke belakang.
pertanyaan yang muncul di benak saya adalah "kapan sineas kita bersandar pada data penelitian sebelum membuat film?" Saya selaly yakin bahwa pola pikir dan sikap ilmiah harus menjadi landasan dalam berkarya. Apapun bentuk karya itu. Sebuah karya yang dibangun lewat keilmiahan memiliki peran penting dalam hal pencerdasan bangsa. Semangat ilmiah inilah yang mesti kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan komersil ayng berorientasi pada uang sah-sah saja, namun seyognyalah kita memiliki tanggung jawab sosial dalam berkarya. Ini dapat direalisasikan dengan cara membuat karya-karya yang menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik dan melakukan aktifitas konkret untuk mendukung keberlangsungan dan keseimbangan bumi yang selama ini kita tempati. Lewat cara inilah sebuah karya akan melegenda. Ia akan diingat dan terus menerus diapresiasi oleh generasi-generasi manusia di masa yang akan datang.
Sabtu, 28 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
resensi yang bagus euy, sayang sy belum sempet nonton neh. perlu dijadwal kya nya nih.
BalasHapus