Iqra! Bacalah!
Telah berjuta kali firman Allah ini dukmandangkan terutama dalam berbagai konteks pendidkan secara luas. Namun, sejauh ini nampaknya firman Allah yang pertama ini tidak melekat di kalbu baik peserta didik dan pendidik itu sendiri. Ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan dan sangat disayangkan...
Sebagai seorang muslim yang tertarik dalam bidang Pragmatics, saya melihat firman pertama Allah tersebut dari dua sisi. Pada sisi yang pertama, saya menafsirkan firman tersebut sebagai fondasi membangun ketauhidan (dan tentu saja ketakwaan). Pertanyaan relevan yang bisa diajukan terhadap proposisi ini adalah: (1) Kenapa aktifitas membaca yang justru dijadikan firman pertama? (2) Kenapa ayat pertama yang turun itu tidak memerintahkan manusia untuk syahadat, sholat, puasa, atau bahkan naik haji? (3) Konteks apa yang hendak dibangun dengan diturunkannya ayat ini?
Saya bukanlah ahli tafsir ataupun ahi fikih, namun saya mencoba memahaminya secara sederhana saja. Ayat ini menandai kerasulan Muhamad SAW sebagai utusan Allah. Dalam jejak rekamnya, ayat ini diturunkan Allah kepada nabi Muhamad melalui malaikat Jibril. Ayat ini datang sebelum Muhamad ditugaskan untuk menyebarluaskan agama Islam yang berlandaskan ketauhidan: percaya dan menyerahkan diri kepada satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Hal ini jelas mengindikasikan bahwa Allah Sang Maha Esa mengingikan Muhamad untuk bisa membaca agar pesan-pesan-Nya dapat didakwahkan dan diterima oleh manusia lain. Pesan utama dari turunya ayat ini adalah bahwa ketakwaan harus dibangun denagn membaca. Kenapa membaca? jawabannya adalh tidak lain tidak bukan karena membaca (dan menulis) adalah aktifitas utama dalam upaya mencari ilmu pengetahuan dan pencerahan. Oleh karena itu, ketakwaan harus didasarkan pada ilmu. Hanya dengan menguasai ilmu tentang Allah-lah maka ketakwaan bisa terbangun. Ketakwaan yang tidak dikonstruksi dengan ilmu hanyalah sesuatu yang semu. Sesuatu yang tidak memiliki hirarki spiritual yang bermakna.
Pesan lain yang dari peristiwa turunnya ayat pertama ini adalah bahwa sebuah kebudayaan juga harus didasarkan pada aktifitas literat: membaca, menulis, meneliti. Setelah Muhamad menjadi literat, barulah beliau ditugaskan Allah Sang Maha Esa untuk menyebarluaskan tentang Islam sebagai rohmat kepada seluruh alam. Melalui perjuangan tanpa lelah selama dua abad lebih, Muhamad merubah kota Mekkah dan Madinah menjadi pusat peradaban dunia. Setelah beliau wafat pun, kegairahan umat Islam yang gandrung pada aktifitas baca-tulis-teliti terus berlanjut. ini dibuktikan dengan adanya penulisan hadits dan quran yang diinisiasi oleh para sahabat nabi dan para pengikutnya. Andalusia dan Persia adalah representasi sempurna di mana kebudayaan Islam berbasis literasi menjelma menjadi kejayaan Islam yang berlangsung hampir kurang lebih 500 tahun. Meskipun kebudayaan dan kejayaan Islam tidak lagi mendominasi warna dunia posmodern, kita masih tetap bisa melihat fakta bahwa bangsa berbasis literasi yang kental sekarang menjadi penguasa dunia. Tengoklah Amerika Serikat & Kanada, Eropa Barat, dan Australia. Meskipun bukan negara Islam, dengan mendasarkan aspek-aspek kehidupan lewat literasi yang kuat, para penduduk di negara-negara tersebut mampu menikmati kemakmuran dan kedigdayaan intelektual. Tidak mengherankan jika negara-negara tersebut menjadi ladang gula bagi para imigran dan pencari suaka yang bermimpi untuk mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik.
Dari sisi yang lain, saya melihat firman pertama yang Allah turunkan kepada nabi Muhamad itu sebagai penanda otoritas dan kekuasaan-Nya yang tidak berbatas. Firman tersebut digramatikalisasi dalam bentuk imperative (kalimat perintah). Dalam Pragmatics, tindak tutur (speech act) ini dikategorikan sebagai directive. Kalimat perintah yang dikonsruksi seperti ini memunculkan sebuah tafsiran spiritual baru bagi saya: Allah SWT secara tegas memabngun identitas-Nya sebagai sebuah entitas yang Maha Kuasa. Dalam sosiologi komunikasi, sebuah declarative yang dikonstruksi dengan sederhana seperti "Iqra" mengindikasikan dengan kuat bahwa si pembicara memiliki power yang (jauh) lebih besar daripada pendengar. Sebagai penguasa langit dan bumi, Allah memiliki kekuasaan yang tak berbatas. DIA memiliki hak penuh atas makhluknya. DIA memiliki hak penuh atas segala peristiwa yang ada di langit dan di bumi. DIA adalah penguasa dari segala penguasa. Raja dari segala raja.
Lalu, dari locution "Iqra!" ini, apa yang bisa kita pahami?
Dalam Pragmatik, yang menjadi bahasan utama sebuah tindak tutur adalah illocutionary act alias intensi dari ujaran yang diproduksi oleh si pembicara. Ilokusi dari firman pertama Allah kepada Muhamad adalah bahwa manusia (khusunya yang telah berikrar tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan-Nya) harus melandaskan hidup dan kehidupannya pada aktifitas baca-tulis-meneliti. Hanya dengan fondasi ilmu pengetahuanlah iman keimanan dan ketakwaan bisa terbangun dan terpelihara. Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah manusia mampu mencapai derajat kehidupan yang tinggi seperti janji Allah bahwa DIA akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Ini adalah sebuah janji Tuhan yang tidak mungkin DIA langgar. Lewat tindak tutur directive ini, Allah sebenarnya menegaskan bahwa kebahagiaan yang hakiki hanya bisa tercapai dengan menguasai ilmu pengetahuan. Tentu saja ilmu pengetahuan mesti didasarkan pada ilmu tentang Allah (Hakikat Allah sebagai penguasa langit dan bumi. Dengan memahami hakikat Allah, kita sebenarnya sedang berupaya untuk meretas jalan menuju tempat terindah di semesta: surga. Bacalah, bacalah, bacalah...
Senin, 30 November 2009
Sabtu, 28 November 2009
2012
2012.
Sebuah judul film yang singkat secara simbol. Film ini menguak tentang kehidupan manusia di planet Bumi yang akan berakhir pada tanggal 21-12-2012. Terinspirasi oleh kalender kuno bangsa Maya di Amerika Selatan, film ini memvisualisasikan sebuah bentuk kehancuran planet Bumi: multi tsunami yang terjadi di semua penjuru bumi. Film ini juga nampaknya terinspirasi oleh Noah's Arc karena ada sejenis kapal laut yang besar yang mampu mnampung ribuan orang agar terselamatkan dari bencana tsunami dan kehancuran masif di bumi. Dengan adanya kapal raksasa ini, spesies yang bernama manusia mampu melanjutkan kehidupan dengan kalender semesta yang baru. Inilah sebuah bentuk absurditas yang tidak bisa saya terima. Tak akan ada yang mampu menyelamatkan diri di hari kiamat. Ini yang aku sering dengar dari Al-Quran.
Jujur saja, awalnya aku tidak begitu tertarik akan film tersebut. Namun, saking seringnya aku melihat angka "2012" aku memiliki rasa penasaran yang kian lama kian menggurita. Judul film ini tersimbolisasi secara sederhana dalam bentuk numerik. Secara semiotika, judul film ini mengindikasikan dengan begitu kuat bahwa "akan ada sesuatu yang dahsyat akan terjadi pada tahun 2012". Untuk kepentingan publisitas, judul film tersebut dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan rasa penasaran yang begitu membuncah bagi (calon) penikmat film tersebut.
Dan setelah beres merayakan Iedul Qurban di Jumat pagi aku dan pasanganku berangkat menuju Studio 21 di Bandung Indah Plaza (BIP). Pada waktu itu kami membeli tiket untuk pemutaran film jam 3 karena sangat tidak mungkin bagiku untuk menonton film di saat shalat Jumat dilaksanakan. Kami menunggu lebih dari 30 menit untuk mendapatkan dua tiket film tersebut. Antrian yang panjang itu ternyata tak surut hingga kami meninggalkan BIP pada saat menjelang Magrib.
Banyak temanku yang bilang bahwa plot yang terbangun dalam film itu biasa-biasa saja. Tak ada hal yang menarik yagn bisa dinikmati dari film itu selain dari efek visual dan suara yang berkualitas wahid. Itu kata mereka. Tapi, aku tak sepenuhnya setuju. Ada dua hal yang menarik yang bisa aku gali dari pengalaman menonton film itu. Yang pertama, film itu menjadi referensi batin penting bagiku untuk meningkatkan tingkat spiritualitasku. Ia mengingatkan aku bahwa manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa. Manusia terhebat di dunia sekalipun tak akan bisa terhindar dari hari akhir. Sebagai seorang muslim, aku melihat film itu sebagai media pencerahan saja, tanpa harus percaya bahwa kiamat akan datang pada tanggan 21 Desember 2012. Kalaupun memenag kiamat akan datang pada hari yang diprediksiskan bangsa Maya itu, nampaknya sah-sah saja karena Allah punya hak istimewa untuk menentukan segalanaya. Tapi, pertanyaannya adalah bekal apa yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah kiamat? Kedua, sisi menarik dari film itu adalah kemampuan penulis cerita dalam menggabungkan data penelitian terbaru dengan visualisasi yang cerdas. Berdasarkan data geologis bumi yang aku baca pada beberapa edisi National Geographic, terutama yang membahas tentang perubahan iklim global dan Yellowstone National park, aku berkesimpulan bahwa sang penulis dan sutradara film itu telah secara tepat mengungkap fakta yang tak terbantahkan: bumi sudah menua karena daya dukung alamnya sudah hancur. Inilah salah satu kehebatan para sineas di Hollywood. Mereka melakukan penelitian yang intens mengenai sebuah fenomena sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk visual (film). Mereka tidak asal-asalan membuat naskah. Meskipun ada absurditas yang dimunculkan dalam film itu, aku melihatnya sebagai sebuah bentuk hiburan saja. Sisi fiksi dari sebuah fenomena bisa digali sejauh itu relevan. Apakah itu dapat diterima oleh beberapa kalangan agama tertentu, itu hal lain. Ketika sebuah film mendapat kritikan, maka ia layak mendapat pujian. Tak ada film atau artis yang layak dipuji kalau ia tak bisa atau tak mau dikritik. Ini adalah pernyataan yang pernah dibuat Halle Berry saat ia menerima penghargaan Oscar tiga tahun ke belakang.
pertanyaan yang muncul di benak saya adalah "kapan sineas kita bersandar pada data penelitian sebelum membuat film?" Saya selaly yakin bahwa pola pikir dan sikap ilmiah harus menjadi landasan dalam berkarya. Apapun bentuk karya itu. Sebuah karya yang dibangun lewat keilmiahan memiliki peran penting dalam hal pencerdasan bangsa. Semangat ilmiah inilah yang mesti kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan komersil ayng berorientasi pada uang sah-sah saja, namun seyognyalah kita memiliki tanggung jawab sosial dalam berkarya. Ini dapat direalisasikan dengan cara membuat karya-karya yang menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik dan melakukan aktifitas konkret untuk mendukung keberlangsungan dan keseimbangan bumi yang selama ini kita tempati. Lewat cara inilah sebuah karya akan melegenda. Ia akan diingat dan terus menerus diapresiasi oleh generasi-generasi manusia di masa yang akan datang.
Sebuah judul film yang singkat secara simbol. Film ini menguak tentang kehidupan manusia di planet Bumi yang akan berakhir pada tanggal 21-12-2012. Terinspirasi oleh kalender kuno bangsa Maya di Amerika Selatan, film ini memvisualisasikan sebuah bentuk kehancuran planet Bumi: multi tsunami yang terjadi di semua penjuru bumi. Film ini juga nampaknya terinspirasi oleh Noah's Arc karena ada sejenis kapal laut yang besar yang mampu mnampung ribuan orang agar terselamatkan dari bencana tsunami dan kehancuran masif di bumi. Dengan adanya kapal raksasa ini, spesies yang bernama manusia mampu melanjutkan kehidupan dengan kalender semesta yang baru. Inilah sebuah bentuk absurditas yang tidak bisa saya terima. Tak akan ada yang mampu menyelamatkan diri di hari kiamat. Ini yang aku sering dengar dari Al-Quran.
Jujur saja, awalnya aku tidak begitu tertarik akan film tersebut. Namun, saking seringnya aku melihat angka "2012" aku memiliki rasa penasaran yang kian lama kian menggurita. Judul film ini tersimbolisasi secara sederhana dalam bentuk numerik. Secara semiotika, judul film ini mengindikasikan dengan begitu kuat bahwa "akan ada sesuatu yang dahsyat akan terjadi pada tahun 2012". Untuk kepentingan publisitas, judul film tersebut dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan rasa penasaran yang begitu membuncah bagi (calon) penikmat film tersebut.
Dan setelah beres merayakan Iedul Qurban di Jumat pagi aku dan pasanganku berangkat menuju Studio 21 di Bandung Indah Plaza (BIP). Pada waktu itu kami membeli tiket untuk pemutaran film jam 3 karena sangat tidak mungkin bagiku untuk menonton film di saat shalat Jumat dilaksanakan. Kami menunggu lebih dari 30 menit untuk mendapatkan dua tiket film tersebut. Antrian yang panjang itu ternyata tak surut hingga kami meninggalkan BIP pada saat menjelang Magrib.
Banyak temanku yang bilang bahwa plot yang terbangun dalam film itu biasa-biasa saja. Tak ada hal yang menarik yagn bisa dinikmati dari film itu selain dari efek visual dan suara yang berkualitas wahid. Itu kata mereka. Tapi, aku tak sepenuhnya setuju. Ada dua hal yang menarik yang bisa aku gali dari pengalaman menonton film itu. Yang pertama, film itu menjadi referensi batin penting bagiku untuk meningkatkan tingkat spiritualitasku. Ia mengingatkan aku bahwa manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa. Manusia terhebat di dunia sekalipun tak akan bisa terhindar dari hari akhir. Sebagai seorang muslim, aku melihat film itu sebagai media pencerahan saja, tanpa harus percaya bahwa kiamat akan datang pada tanggan 21 Desember 2012. Kalaupun memenag kiamat akan datang pada hari yang diprediksiskan bangsa Maya itu, nampaknya sah-sah saja karena Allah punya hak istimewa untuk menentukan segalanaya. Tapi, pertanyaannya adalah bekal apa yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah kiamat? Kedua, sisi menarik dari film itu adalah kemampuan penulis cerita dalam menggabungkan data penelitian terbaru dengan visualisasi yang cerdas. Berdasarkan data geologis bumi yang aku baca pada beberapa edisi National Geographic, terutama yang membahas tentang perubahan iklim global dan Yellowstone National park, aku berkesimpulan bahwa sang penulis dan sutradara film itu telah secara tepat mengungkap fakta yang tak terbantahkan: bumi sudah menua karena daya dukung alamnya sudah hancur. Inilah salah satu kehebatan para sineas di Hollywood. Mereka melakukan penelitian yang intens mengenai sebuah fenomena sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk visual (film). Mereka tidak asal-asalan membuat naskah. Meskipun ada absurditas yang dimunculkan dalam film itu, aku melihatnya sebagai sebuah bentuk hiburan saja. Sisi fiksi dari sebuah fenomena bisa digali sejauh itu relevan. Apakah itu dapat diterima oleh beberapa kalangan agama tertentu, itu hal lain. Ketika sebuah film mendapat kritikan, maka ia layak mendapat pujian. Tak ada film atau artis yang layak dipuji kalau ia tak bisa atau tak mau dikritik. Ini adalah pernyataan yang pernah dibuat Halle Berry saat ia menerima penghargaan Oscar tiga tahun ke belakang.
pertanyaan yang muncul di benak saya adalah "kapan sineas kita bersandar pada data penelitian sebelum membuat film?" Saya selaly yakin bahwa pola pikir dan sikap ilmiah harus menjadi landasan dalam berkarya. Apapun bentuk karya itu. Sebuah karya yang dibangun lewat keilmiahan memiliki peran penting dalam hal pencerdasan bangsa. Semangat ilmiah inilah yang mesti kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan komersil ayng berorientasi pada uang sah-sah saja, namun seyognyalah kita memiliki tanggung jawab sosial dalam berkarya. Ini dapat direalisasikan dengan cara membuat karya-karya yang menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik dan melakukan aktifitas konkret untuk mendukung keberlangsungan dan keseimbangan bumi yang selama ini kita tempati. Lewat cara inilah sebuah karya akan melegenda. Ia akan diingat dan terus menerus diapresiasi oleh generasi-generasi manusia di masa yang akan datang.
Selasa, 24 November 2009
13 Tahun Lagi
13 tahun lagi aku akan genap berumur 40 tahun. Pada tanggal 31 Desember yang akan datang aku akan berusia 27 tahun. Ada sebentuk kesadaran yang mewujud dalam bentuk pernyataan sederhana: "hidup ini ternyata terasa begitu pendek". Rasanya baru kemarin sore aku bermain kasti dan sepak bola di lapangan kecil dan becek di dekat rumahku yang dulu. Rasanya baru kemarin aku merasakan menjadi juara karate. Rasanya baru kemarin sore aku bermain sebagai "King Creon" dalam drama Antigone...
Kini semua telah berubah...aku bukan lagi seorang anak kecil yang gemar berkelahi. Aku bukan lagi seorang anak lelaki yang selalu merengek ingin dibelikan bermacam-macam mainan. Kini aku telah bermetamorfosis menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki mimpi-mimpi besar. Kini aku adalah seorang lelaki yang tahu akan hak dan keajibannya. Aku tak lagi merengek untuk dibelikan mainan. Kini aku telah menyelsaikan studi masterku sebelum berusia 27 tahun. Kini aku sedang mempersiapkan untuk menjadi seorang suami dan ayah yang hebat bagi istri dan anak-anakku. Kini aku punya duniaku sendiri di mana aku punya otoritas menentukan arah dan jalan hidupku. Kini aku adalah salah satu orang yang paling beruntung di dunia:)....betapa semua berlalu dengan begitu cepat.
Tiga belas tahun lagi aku berumur 40 tahun. Kalimat ini terus mengiang di telingaku dalam beberapa terakhir. Mungkin ini disebabkan karena aku berkontemplasi terlalu jauh, merunut masa-masa yang telah aku lalui. Pepatah mengatakan bahwa hidup dimulai ketika kit aberumur 40 tahun. Pepatah ini nampaknya punya makna yang begitu mendalam bagiku. Kebermaknaan akan angka 40 tahun itu aku formulasikan dalam banyak pertanyaan: (1) Apa yang akan dan telah aku capai sebelum aku menginjak usia 40?; (2) Apa yang akan aku siapkan untuk diriku sendiri dan keluargaku selama 13 tahun itu?; (3) Apakah aku mampu menggondol gelar doktor (Ph.D) sebelum aku berusia 35 tahun?; (4) Di mana aku akan membangun rumah impian bagi aku dan keluargaku? (bukan rumah kecil yang kami miliki di kawasan Banjaran, Bandung); (5) Apakah aku mampu menglirkan DNA INKAI pada raga anak-anakku kelak (INKAI butuh penerus yang potensial); (6) Apakah anak-anakku mewarisi segala yang telah aku bangun dan cita-citakan bersama pasanganku?; (7) Apakah aku bisa menulis satu atau beberapa buku selama tiga belas tahun?; (8) Apakah aku bisa memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dengan peneliti asing dan mengikuti seminar di luar negeri sebelum aku beranjak 40 tahun?; (9) Apakah aku mampu memiliki gelar profesor sebelum aku berumur 45 tahun?
kesembilan pertanyaan ini telah mengakar kuat dalam batinku. Aku hanya memiliki satu harapan besar bahwa semua pertanyaan itu bisa aku jawab dan lalui dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Manusia hanya bisa berencana & Allahlah yang menentukan segalanya. Aku sangat meyakini hal ini. Namun, aku memiliki keyakinan besar bahwa bila semua usaha keras yang diiringi oleh doa dan ketulusan akan berbuah manis. Tak ada sedikit pun keraguan yang menghalangiku untuk menkmati semua proses kehidupan ini. Aku ingin merayakan setiap proses kehidupan ini dengan senyuman dan penyerahan total kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah.
Kini semua telah berubah...aku bukan lagi seorang anak kecil yang gemar berkelahi. Aku bukan lagi seorang anak lelaki yang selalu merengek ingin dibelikan bermacam-macam mainan. Kini aku telah bermetamorfosis menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki mimpi-mimpi besar. Kini aku adalah seorang lelaki yang tahu akan hak dan keajibannya. Aku tak lagi merengek untuk dibelikan mainan. Kini aku telah menyelsaikan studi masterku sebelum berusia 27 tahun. Kini aku sedang mempersiapkan untuk menjadi seorang suami dan ayah yang hebat bagi istri dan anak-anakku. Kini aku punya duniaku sendiri di mana aku punya otoritas menentukan arah dan jalan hidupku. Kini aku adalah salah satu orang yang paling beruntung di dunia:)....betapa semua berlalu dengan begitu cepat.
Tiga belas tahun lagi aku berumur 40 tahun. Kalimat ini terus mengiang di telingaku dalam beberapa terakhir. Mungkin ini disebabkan karena aku berkontemplasi terlalu jauh, merunut masa-masa yang telah aku lalui. Pepatah mengatakan bahwa hidup dimulai ketika kit aberumur 40 tahun. Pepatah ini nampaknya punya makna yang begitu mendalam bagiku. Kebermaknaan akan angka 40 tahun itu aku formulasikan dalam banyak pertanyaan: (1) Apa yang akan dan telah aku capai sebelum aku menginjak usia 40?; (2) Apa yang akan aku siapkan untuk diriku sendiri dan keluargaku selama 13 tahun itu?; (3) Apakah aku mampu menggondol gelar doktor (Ph.D) sebelum aku berusia 35 tahun?; (4) Di mana aku akan membangun rumah impian bagi aku dan keluargaku? (bukan rumah kecil yang kami miliki di kawasan Banjaran, Bandung); (5) Apakah aku mampu menglirkan DNA INKAI pada raga anak-anakku kelak (INKAI butuh penerus yang potensial); (6) Apakah anak-anakku mewarisi segala yang telah aku bangun dan cita-citakan bersama pasanganku?; (7) Apakah aku bisa menulis satu atau beberapa buku selama tiga belas tahun?; (8) Apakah aku bisa memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dengan peneliti asing dan mengikuti seminar di luar negeri sebelum aku beranjak 40 tahun?; (9) Apakah aku mampu memiliki gelar profesor sebelum aku berumur 45 tahun?
kesembilan pertanyaan ini telah mengakar kuat dalam batinku. Aku hanya memiliki satu harapan besar bahwa semua pertanyaan itu bisa aku jawab dan lalui dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Manusia hanya bisa berencana & Allahlah yang menentukan segalanya. Aku sangat meyakini hal ini. Namun, aku memiliki keyakinan besar bahwa bila semua usaha keras yang diiringi oleh doa dan ketulusan akan berbuah manis. Tak ada sedikit pun keraguan yang menghalangiku untuk menkmati semua proses kehidupan ini. Aku ingin merayakan setiap proses kehidupan ini dengan senyuman dan penyerahan total kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah.
Senin, 23 November 2009
Perjalanan
Malam ini aku akan melakukan perjalanan menuju Paris van Java alias Kota Kembang alias Bandung. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar kurang lebih tiga jam saja. Aku tidak ingat sudah berapa ratus kali aku melakukan perjalanan malam menuju Bandung dengan menggunakan layanan mobil travel. Udara yang dingin dan hujan yang menderu di malam sampai pagi hari tidak pernah menyurutkan aku untuk menikmati atmosfir di setiap perjalananku.
Kali ini tujuan perjalananku adalah untuk menghadiri sebuah seminar kebahasaan dan seni yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia, tempat di mana aku menggondol gelar undergraduate dan master. Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Rabu 25 November 2009 di Auditorium JICA. Nampaknya seminar ini akan berakhir di sore hari menjelang senja. Pada hari Kamis aku harus menemui direktur Balai Bahasa UPI untuk meneruskan pembicaraan mengenai MoU pelaksanaan TOEFL test di Universitas Kuningan. Setelah semua tugas ini beres, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk "cruising" alias jalan-jalan di Bandung. Acara jalan-jalan ini akan aku isi dengan mengunjungi Cihampelas Walk a.k.a Ciwalk dan Toko TIGA. Tujuan utama acara jalan-jalan ini adalah untuk menambah koleksi baju (khususnya M-Gee dan Watchout) dan koleksi buku-ku. Ini sudah menjadi rutinitas yang wajib ditunaikan.
Yang membuat perjalanan ini sedikit berbeda adalah bahwa keikutsertaanku di seminar ini merupakan tugas tambahan dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris UNIKU. Jadi, aku membawa bendera UNIKU dalam perhelatan ilmiah ini. Selama aku menuntut ilmu di jenjang master di universitas ini aku beberapa kali terlibat dalam seminar internasional baik sebagai peserta maupun pembicara dengan mengatasnamakan Sekolah Pascasarjana UPI, bukan UNIKU.
Pada seminar kali ini aku berstatus sebgai peserta, bukan pembicara karena seminar ini bukan merupakan seminar yang bersifat terbuka (tidak ada parallel session seperti di Conference on Applied Linguistics yang pernah aku ikuti). Aku berharap bisa menemukan pencerahan baru dalam bidang kebahasaan dan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia (TEFL). Tak ada hal yang lebih menarik bagiku selain mendapatkan pencerahan dan pengalaman baru dari setiap perjalanan dan aktifitas yang aku laksanakan.
Setiap perjalanan, layaknya hidup ini, harus memiliki tujuan. Tanpa tujuan yang jelas sebuah perjalanan akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Aku merasa sangat beruntung karena sampai saat ini aku masih diberikan banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan destinasi dan kepentingan yang beragam. Ini tentu saja membuatku memiliki kesempatan untuk menambah kapasitas "experiential knowledge" yang aku miliki, bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, dan meningkatkan kesadaran empirisku baik sebagai individu maupun sebagai dosen yang memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap dunia penelitian. Sebuah perjalanan selalu bermakna bagiku. Tak ada hal yang lebih indah selain melakukan sebuah perjalanan yang diiringi rasa cinta akan kehidupan...SEMOGA
Kali ini tujuan perjalananku adalah untuk menghadiri sebuah seminar kebahasaan dan seni yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia, tempat di mana aku menggondol gelar undergraduate dan master. Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Rabu 25 November 2009 di Auditorium JICA. Nampaknya seminar ini akan berakhir di sore hari menjelang senja. Pada hari Kamis aku harus menemui direktur Balai Bahasa UPI untuk meneruskan pembicaraan mengenai MoU pelaksanaan TOEFL test di Universitas Kuningan. Setelah semua tugas ini beres, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk "cruising" alias jalan-jalan di Bandung. Acara jalan-jalan ini akan aku isi dengan mengunjungi Cihampelas Walk a.k.a Ciwalk dan Toko TIGA. Tujuan utama acara jalan-jalan ini adalah untuk menambah koleksi baju (khususnya M-Gee dan Watchout) dan koleksi buku-ku. Ini sudah menjadi rutinitas yang wajib ditunaikan.
Yang membuat perjalanan ini sedikit berbeda adalah bahwa keikutsertaanku di seminar ini merupakan tugas tambahan dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris UNIKU. Jadi, aku membawa bendera UNIKU dalam perhelatan ilmiah ini. Selama aku menuntut ilmu di jenjang master di universitas ini aku beberapa kali terlibat dalam seminar internasional baik sebagai peserta maupun pembicara dengan mengatasnamakan Sekolah Pascasarjana UPI, bukan UNIKU.
Pada seminar kali ini aku berstatus sebgai peserta, bukan pembicara karena seminar ini bukan merupakan seminar yang bersifat terbuka (tidak ada parallel session seperti di Conference on Applied Linguistics yang pernah aku ikuti). Aku berharap bisa menemukan pencerahan baru dalam bidang kebahasaan dan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia (TEFL). Tak ada hal yang lebih menarik bagiku selain mendapatkan pencerahan dan pengalaman baru dari setiap perjalanan dan aktifitas yang aku laksanakan.
Setiap perjalanan, layaknya hidup ini, harus memiliki tujuan. Tanpa tujuan yang jelas sebuah perjalanan akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Aku merasa sangat beruntung karena sampai saat ini aku masih diberikan banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan destinasi dan kepentingan yang beragam. Ini tentu saja membuatku memiliki kesempatan untuk menambah kapasitas "experiential knowledge" yang aku miliki, bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, dan meningkatkan kesadaran empirisku baik sebagai individu maupun sebagai dosen yang memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap dunia penelitian. Sebuah perjalanan selalu bermakna bagiku. Tak ada hal yang lebih indah selain melakukan sebuah perjalanan yang diiringi rasa cinta akan kehidupan...SEMOGA
Minggu, 22 November 2009
Satu Hari Saja
Satu hari saja biarkan aku merayakan kesendirianku. Tak ada rutinitias perkerjaan yang membelenggu. Tak ada teksbuk linguistik yang "meminta" tuk dibaca. Tak ada jadwal melatih karate yang melelahkan raga. Satu hari saja biarkan aku menikmati sebentuk kehidupan yang soliter. Dengan menyendiri aku bukan hanya ingin sejenak menghela nafas dari sejuta aktifitas yang menggunung di minggu kemarin, tapi juga ingin mengenal dan menggali lebih dalam siapa diriku ini.
Hari ini aku ingin melakukan hal-hal sederhana yang selama dua mingu ini sedikit terabaikan: menyapu halaman rumah, membersihkan kandang kelinciku, memberi makan keedua kelinciku dan seekor burung hantu jenis Tyto Alba yang baru saja menghuni kadang di rumahku sejak dua hari yang lalu, membuang dan membakar sampah yang menggunung di dekat pelataran pemakaman desa. Kegiatan-kegiatan sederhana lain yang aku sangat rindukan adalah membaca majalah National Geographic dan Sport Week edisi terbaru sambil ditemani jus jeruk atau strawberry dan musik alternative rock yang menderu dengan dinamis.
Kegiatan-kegiatan sederhana ini telah mengisi hari-hariku dan menjadi sebuah rutinitas wajib sejak aku tinggal di Bandung. Di sela-sela aktifitasku biasanya aku menghabiskan waktu di sungai atau hutan kecil hanya untuk menikmati sebentuk kehidupan liar yang kian tergerus oleh pemanasan global. Dengan melakukan banyak kegiatan sederhana ini aku semakin bisa menikmati hidupku. Tak perlulah aku pergi ke mall atau diskotik. Yang aku inginkan hanyalah sebentuk aktifitas soliter yang menyenangkan di satu hari saja.
Pekerjaanku sebagai dosen cukup demanding. Untuk menghasilkan sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi aku harus menginvestasikan begitu banyak waktu untuk belajar dan berlatih. Tanpa sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi tidak mungkin ada harapan untuk menciptakan sebuah generasi yang lebih baik. Selain itu, aku juga diwajibkan untuk mmeriksa tugas-tugas mahasiswa yang bertumpuk bagai cucian kotor saja. Sangat melelahkan memang. Untuk melihat keberhasilan sebuah proses pembelajaran, aku harus melihat proses mahasiswa belajar dengan memberikan tugas yang sifatnya "staged" atau bertahap. Ini memungkinkan aku mengukur dan menganalisa tingkat pemahaman mereka secara lebih mendalam. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah pekerjaan yang berat. Ketika ada sekitar 400-an "paper" atau makalah pendek menumpuk di meja kerjaku, aku hanya bisa tersenyum lirih dan berbisik pada diriuku sendiri: "kapan aku bisa menyelesaiakn pekerjaan yang membutuhkan kerja keras otak ini ?" Setelah memebereskan tugas akademik seperti ini aku merasa begitu lelah. Tingkat kelelahannya melebihi berlatih karate selama 3 jam. Bila kelelahan telah mewujud, tidur saja tidak cukup untuk memulihkan staminaku. Aku butuh satu hari saja untuk "memanjakan" jiwa dan ragaku. Ketika raga ini telah mencapai titik keseimbangan yang baru, maka aku siap untuk berpacu dengan waktu. Aku pun tak ragu untuk menikmati untaian konsep-konsep linguistik yang membutuhkan daya pikir yang luar biasa berat. Satu hari saja, izinkan aku menikmati duniaku.
Hari ini aku ingin melakukan hal-hal sederhana yang selama dua mingu ini sedikit terabaikan: menyapu halaman rumah, membersihkan kandang kelinciku, memberi makan keedua kelinciku dan seekor burung hantu jenis Tyto Alba yang baru saja menghuni kadang di rumahku sejak dua hari yang lalu, membuang dan membakar sampah yang menggunung di dekat pelataran pemakaman desa. Kegiatan-kegiatan sederhana lain yang aku sangat rindukan adalah membaca majalah National Geographic dan Sport Week edisi terbaru sambil ditemani jus jeruk atau strawberry dan musik alternative rock yang menderu dengan dinamis.
Kegiatan-kegiatan sederhana ini telah mengisi hari-hariku dan menjadi sebuah rutinitas wajib sejak aku tinggal di Bandung. Di sela-sela aktifitasku biasanya aku menghabiskan waktu di sungai atau hutan kecil hanya untuk menikmati sebentuk kehidupan liar yang kian tergerus oleh pemanasan global. Dengan melakukan banyak kegiatan sederhana ini aku semakin bisa menikmati hidupku. Tak perlulah aku pergi ke mall atau diskotik. Yang aku inginkan hanyalah sebentuk aktifitas soliter yang menyenangkan di satu hari saja.
Pekerjaanku sebagai dosen cukup demanding. Untuk menghasilkan sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi aku harus menginvestasikan begitu banyak waktu untuk belajar dan berlatih. Tanpa sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi tidak mungkin ada harapan untuk menciptakan sebuah generasi yang lebih baik. Selain itu, aku juga diwajibkan untuk mmeriksa tugas-tugas mahasiswa yang bertumpuk bagai cucian kotor saja. Sangat melelahkan memang. Untuk melihat keberhasilan sebuah proses pembelajaran, aku harus melihat proses mahasiswa belajar dengan memberikan tugas yang sifatnya "staged" atau bertahap. Ini memungkinkan aku mengukur dan menganalisa tingkat pemahaman mereka secara lebih mendalam. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah pekerjaan yang berat. Ketika ada sekitar 400-an "paper" atau makalah pendek menumpuk di meja kerjaku, aku hanya bisa tersenyum lirih dan berbisik pada diriuku sendiri: "kapan aku bisa menyelesaiakn pekerjaan yang membutuhkan kerja keras otak ini ?" Setelah memebereskan tugas akademik seperti ini aku merasa begitu lelah. Tingkat kelelahannya melebihi berlatih karate selama 3 jam. Bila kelelahan telah mewujud, tidur saja tidak cukup untuk memulihkan staminaku. Aku butuh satu hari saja untuk "memanjakan" jiwa dan ragaku. Ketika raga ini telah mencapai titik keseimbangan yang baru, maka aku siap untuk berpacu dengan waktu. Aku pun tak ragu untuk menikmati untaian konsep-konsep linguistik yang membutuhkan daya pikir yang luar biasa berat. Satu hari saja, izinkan aku menikmati duniaku.
Jumat, 20 November 2009
KLa
Ya KLa Project, atau sekarang trio Katon Lilo Adi ini menamakan kebersamaan dirinya dengan nama "KLa Returns". KLa adalah band Indonesia pujaanku sejak aku berumur 13 tahun. Jadi selama ini aku telah menjadi salah satu fans berat mereka selama kurang lebih 14 tahun. Sebuah loyalitas yang dahsyat bukan untuk seorang fans bukan? :)Aku bahkan punya semua koleksi CD dan kaset KLa (ga boong lho!)
Di permulaan minggu ini tiba-tiba saja hati ini terketuk untuk memutar lagu-lagu hits KLa. Malahan minggu ini aku tak tergerak untuk memanjakan inderaku dengan iringan musik dari band lain (selama kurang lebih dua tahun ini aku memperluas genre musikku. Saban pagi, siang, dan petang, aku menyempatkan diri untuk menikmati alunan musik KLa yang dinamis bercampur dengan lirik lagu yang puitis. Tak ada yang lebih indah selain mendengarkan lagu KLa:) Aku tak mengerti kenapa pula jari-jari ini nampak tergerak begitu saa untuk menuliskan sesuatu tentang KLa. Apa mungkin ini disebabkan karena KLa akan menggelar konser akbar lagi di akhir tahun ini (red: 4 Desember 2009)? Konser tersebut kabarnya merupakan simbolisasi kembalinya Lilo kedalam formasi KLa yang selama ini kita kenal. Konser ini juga menandai kiprah bermusik mereka di Indonesia selama kurang lenih 20 tahun. Entahlah. Aku hanya kangen berat sama lagu-lagu KLa...
Ketika aku berumur 13 tahun (kelas satu SMP) aku untuk pertama kalinya jatuh cinta pada musik KLa. Padahal, saat itu teman-teman sebayaku sedang gandrung sama lagu-lagu Slank, Gigi, dan Dewa 19. Aku satu-satunya siswa di kelasku yang jatuh cinta pada KLa. Nampaknya aku tak salah menjatuhkan pilihanku.
Sejak musik KLa mengisi deru hidupku aku mampu menjalani dinamika hidup dengan lebih positif. Kata-kata yang puitis dan romantis ternyata malah membuatku semakin mempertajam kapasitas berbahasaku. Musik yang lembut ternyata tidak membuatku "lebai". Ada nuansa yang begitu dinamis dalam musik KLa yang membuatku tidak pernah bosan dengan mendengarkan lagu-lagunya. KLa menyuguhkan musik yang memang sesuai dengan atmosfer jiwaku. Inilah yang membuatku tak bisa melupakan KLa.
Suatu saat kelak akan kuperdengarkan lagu-lagu KLa pada anak-anakku, Shanindya dan Beryl. Semoga saja KLa bisa terus berkarya tanpa lelah. Aku ingin karya-karya mereka menemani setiap perjalanan kehidupanku ke manapun aku pergi, ke mana pun aku berpetualang hingga tulang ini merapuh...semoga
Di permulaan minggu ini tiba-tiba saja hati ini terketuk untuk memutar lagu-lagu hits KLa. Malahan minggu ini aku tak tergerak untuk memanjakan inderaku dengan iringan musik dari band lain (selama kurang lebih dua tahun ini aku memperluas genre musikku. Saban pagi, siang, dan petang, aku menyempatkan diri untuk menikmati alunan musik KLa yang dinamis bercampur dengan lirik lagu yang puitis. Tak ada yang lebih indah selain mendengarkan lagu KLa:) Aku tak mengerti kenapa pula jari-jari ini nampak tergerak begitu saa untuk menuliskan sesuatu tentang KLa. Apa mungkin ini disebabkan karena KLa akan menggelar konser akbar lagi di akhir tahun ini (red: 4 Desember 2009)? Konser tersebut kabarnya merupakan simbolisasi kembalinya Lilo kedalam formasi KLa yang selama ini kita kenal. Konser ini juga menandai kiprah bermusik mereka di Indonesia selama kurang lenih 20 tahun. Entahlah. Aku hanya kangen berat sama lagu-lagu KLa...
Ketika aku berumur 13 tahun (kelas satu SMP) aku untuk pertama kalinya jatuh cinta pada musik KLa. Padahal, saat itu teman-teman sebayaku sedang gandrung sama lagu-lagu Slank, Gigi, dan Dewa 19. Aku satu-satunya siswa di kelasku yang jatuh cinta pada KLa. Nampaknya aku tak salah menjatuhkan pilihanku.
Sejak musik KLa mengisi deru hidupku aku mampu menjalani dinamika hidup dengan lebih positif. Kata-kata yang puitis dan romantis ternyata malah membuatku semakin mempertajam kapasitas berbahasaku. Musik yang lembut ternyata tidak membuatku "lebai". Ada nuansa yang begitu dinamis dalam musik KLa yang membuatku tidak pernah bosan dengan mendengarkan lagu-lagunya. KLa menyuguhkan musik yang memang sesuai dengan atmosfer jiwaku. Inilah yang membuatku tak bisa melupakan KLa.
Suatu saat kelak akan kuperdengarkan lagu-lagu KLa pada anak-anakku, Shanindya dan Beryl. Semoga saja KLa bisa terus berkarya tanpa lelah. Aku ingin karya-karya mereka menemani setiap perjalanan kehidupanku ke manapun aku pergi, ke mana pun aku berpetualang hingga tulang ini merapuh...semoga
Kamis, 19 November 2009
Hujan
Selamat datang wahai sang hujan...selamat datang di bumi yang tak lagi muda...janganlah terkaget-kaget bila kau merasa bahwa bumi ini tak lagi sama. Memang bumi ini tak lagi sama seperti di masa-masa yang lampau. Janganlah terheran-heran bila kau melihat bahwa para penghuni bumi kini tak lagi menghormati tempat di mana mereka berpijak. Manusia memang kini bukanlah manusia-manusia yang pernah kau kenal dulu. Kini mereka telah berubah menjadi makhluk-makhluk yang menakutkan. Mereka saling terkam, saling bunuh, dan mereka pulalah yang menghancurkan pilar-pilar kehidupan bumi: hutan, sungai, samudera, dan angkasa raya.
Kau telah lama kunanti. kau terlalu lama menghilang dari siklus kehidupan kami. Kini kau hadir membawa secercah harapan. Kau hadir dengan menyemaikan benih-benih kehidupan yang baru. Semua penghuni bumi bersuka cita. Mereka berpesta merayakan kehadiranmu. Ketika mereka bersuka cita melepas dahaga mereka, aku hanya tertegun lesu. Aku tak mau terjebak dalam euforia yang semu. Aku hanya ingin bicara padamu...Aku ingin menyentuhmu...aku ingin bersujud di tanah yang kau basahi...aku ingin meneriakkan syair-syair ilahiah hanya ditemani olehmu...hanya olehmu...meskipun raga ini menggigil, meskipun tetesan-tetesanmu merasuk kedalam nadiku, aku akan bahagia karena sudah terlalu lama aku menanti kehadiranmu...
kehadiranmu adalah sebuah keindahan yang hakiki. Kau adalah air-air magis. Kaulah yang memberi arti akan kehidupan ini...
Namun, tak ada seorang pun yang tahu kapan kau akan pergi lagi. Tak ada yang tahu kapan kau akan kembali lagi. Tak ada yang tahu apakah kehadiranmu mampu menjawab segala tanya. Tak ada yang tahu apa kau akan mengehempaskan orang-orang paling kotor di muka bumi ini...aku hanya berharap bahwa di saat kau hadiraku bisa menikmati keindahanmu. Aku hanya ingin mendengarkan alunan musik kehidupan yang kau mainkan. Selamat datang wahai sang hujan...tinggallah barang sejenak di sini bersamaku...
Kau telah lama kunanti. kau terlalu lama menghilang dari siklus kehidupan kami. Kini kau hadir membawa secercah harapan. Kau hadir dengan menyemaikan benih-benih kehidupan yang baru. Semua penghuni bumi bersuka cita. Mereka berpesta merayakan kehadiranmu. Ketika mereka bersuka cita melepas dahaga mereka, aku hanya tertegun lesu. Aku tak mau terjebak dalam euforia yang semu. Aku hanya ingin bicara padamu...Aku ingin menyentuhmu...aku ingin bersujud di tanah yang kau basahi...aku ingin meneriakkan syair-syair ilahiah hanya ditemani olehmu...hanya olehmu...meskipun raga ini menggigil, meskipun tetesan-tetesanmu merasuk kedalam nadiku, aku akan bahagia karena sudah terlalu lama aku menanti kehadiranmu...
kehadiranmu adalah sebuah keindahan yang hakiki. Kau adalah air-air magis. Kaulah yang memberi arti akan kehidupan ini...
Namun, tak ada seorang pun yang tahu kapan kau akan pergi lagi. Tak ada yang tahu kapan kau akan kembali lagi. Tak ada yang tahu apakah kehadiranmu mampu menjawab segala tanya. Tak ada yang tahu apa kau akan mengehempaskan orang-orang paling kotor di muka bumi ini...aku hanya berharap bahwa di saat kau hadiraku bisa menikmati keindahanmu. Aku hanya ingin mendengarkan alunan musik kehidupan yang kau mainkan. Selamat datang wahai sang hujan...tinggallah barang sejenak di sini bersamaku...
Rabu, 18 November 2009
FULL STOP
Ada perasaan lelah yang membuncah ketika aku meninggalkan kampus. Pemicu kelelahan ini lebih banyak disebabkan karena faktor eksternal: mahasiswa yang dalam DNA-nya sudah tercemari racun-racun kemalasan, mahasiswa yang merasa dirinya lebih penting ketimbang apa yang dilakukan atau yang diucapkannya. Terlalu lelah...(seperti judul lagu EVO band). Tapi biarlah semua kelelahan itu berlalu. Kan kubiarkan semua "external factor" itu lenyap ditelan hujan yang baru saja meluruhkan semua dahaga. Aku adalah aku. Aku adalah Lala Bumela, seorang manusia yang dalam DNA-nya mengalir darah darah kaum pemikir dan pejuang yang berani membentangkan syair-syair kebenaran. Aku adalah seorang penyandang sabuk hitam yang selalu konsisten dengan apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukannya. Aku adalah seorang muslim yang tahu batas di mana aku harus memosisikan diri sebagai kawan atau lawan. Aku adalah aku. FULL STOP.
Suatu saat seorang sahabat yang kebetulan juga guru spiritualku sempat menanyakan suatu hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya: "Faktor apa yang membuat kamu kecewa dengan profesi yang kamu miliki?" Secara spontan saja aku menjawab pertanyaan dia dengan memberikan beberapa daftar kekecewaan yang (mungkin) melandaku sebagai seorang dosen: (1) menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak memiliki komitmen utuh dalam manjalani studinya; (2) menemukan fakta bahwa banyak mahasiswa yang melakukan kegiatan akademiknya asal-asalan, yang berimbas pada merosotnya pencapaian mereka; (3) melihat kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang "suranyeh" hanya pada saat mereka terdaftar pada mata kuliah yang aku pegang.
Setelah mengemukakan ketiga hal itu, sahabatku tersenyum dan bertanya balik "Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasi kekecewaan itu?" Aku menjawabnya dengan sederhana: "I leave everything to God". Lalu ia kembali tersenyum, namun dengan derajat kepuasan yang berbeda. Percakapan kami terhenti untuk beberapa saat saja hingga aku memutuskan untuk menambahkan pernyataan berkaitan dengan jawabanku sebelumnya. Aku selama ini berusaha untuk tidak dikendalikan oleh berbagai faktor eksternal yang bisa menhambat laju hidupku. Justru akulah yang harus mengendalikan segalanya. "I am the one who controls my world". FULL STOP. Sahabtku pun hanya tersenyum kecil seraya menambahkan pernyataan bahwa pada titik itu aku telah memahami makna sebenarnya dari menjadi diri sendiri. Ketika aku menyadari bahwa akulah pusat duniaku, aku telah mencapai titik kesadaran yang seimbang. Bila tidak, maka faktor-faktor eksternal itu dapat menyeret aku ke dalam jurang kekecewaan yang dalam dan akut. Aku tak mau terjerembab pada apa yang orang lain pikirkan tentang aku. Aku hanya ingin menjalani kehidupan seperti yang aku rencanakan dan cita-citakan. Dan aku yakin Allah pun telah begitu memberkati aku karena selama ini aku menjalani hidup seperti yang aku kehendaki. Alhamdulillaah...FULL STOP.
Dalam kamus kehidupan seorang darwis, kehidupan ini hanya digantungkan kepada Allah semata, terlepas seberapa berat beban dan tantangan yang ia hadapi. Allah-lah yang menciptakan manusia dan beragam persoalannya, dan DIA pun memiliki solusi untuk setiap permasalahan itu. Namun, sebuah solusi hanya akan mewujud bila dan hanya bila kita mau berpikir keras. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi dan terselesaikan atas rido-Nya. Jika aku memikirkan, mengucapkan, dan melakukan hal yang benar maka tak ada satupun alasan bagiku untuk merasa takut. Bila aku menjunjung kebenaran dan banyak orang tidak menyukainya. Fine, it is NOT a big deal at all. Ketika aku menjunjung tinggi sebuah kejujuran dan banyak orang memusuhiku. Fine, it is NOT a big deal at all. Aku adalah aku. FULL STOP. Aku hanya ingin menjalani kehidupan ini dengan cara yang sederhana: menjunjung kebenaran dan menghargai kejujuran. Tanpa kedua hal itu, sangat mustahil aku bisa mencapai sebuah kebahagiaan yang hakiki. FULL STOP
Suatu saat seorang sahabat yang kebetulan juga guru spiritualku sempat menanyakan suatu hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya: "Faktor apa yang membuat kamu kecewa dengan profesi yang kamu miliki?" Secara spontan saja aku menjawab pertanyaan dia dengan memberikan beberapa daftar kekecewaan yang (mungkin) melandaku sebagai seorang dosen: (1) menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak memiliki komitmen utuh dalam manjalani studinya; (2) menemukan fakta bahwa banyak mahasiswa yang melakukan kegiatan akademiknya asal-asalan, yang berimbas pada merosotnya pencapaian mereka; (3) melihat kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang "suranyeh" hanya pada saat mereka terdaftar pada mata kuliah yang aku pegang.
Setelah mengemukakan ketiga hal itu, sahabatku tersenyum dan bertanya balik "Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasi kekecewaan itu?" Aku menjawabnya dengan sederhana: "I leave everything to God". Lalu ia kembali tersenyum, namun dengan derajat kepuasan yang berbeda. Percakapan kami terhenti untuk beberapa saat saja hingga aku memutuskan untuk menambahkan pernyataan berkaitan dengan jawabanku sebelumnya. Aku selama ini berusaha untuk tidak dikendalikan oleh berbagai faktor eksternal yang bisa menhambat laju hidupku. Justru akulah yang harus mengendalikan segalanya. "I am the one who controls my world". FULL STOP. Sahabtku pun hanya tersenyum kecil seraya menambahkan pernyataan bahwa pada titik itu aku telah memahami makna sebenarnya dari menjadi diri sendiri. Ketika aku menyadari bahwa akulah pusat duniaku, aku telah mencapai titik kesadaran yang seimbang. Bila tidak, maka faktor-faktor eksternal itu dapat menyeret aku ke dalam jurang kekecewaan yang dalam dan akut. Aku tak mau terjerembab pada apa yang orang lain pikirkan tentang aku. Aku hanya ingin menjalani kehidupan seperti yang aku rencanakan dan cita-citakan. Dan aku yakin Allah pun telah begitu memberkati aku karena selama ini aku menjalani hidup seperti yang aku kehendaki. Alhamdulillaah...FULL STOP.
Dalam kamus kehidupan seorang darwis, kehidupan ini hanya digantungkan kepada Allah semata, terlepas seberapa berat beban dan tantangan yang ia hadapi. Allah-lah yang menciptakan manusia dan beragam persoalannya, dan DIA pun memiliki solusi untuk setiap permasalahan itu. Namun, sebuah solusi hanya akan mewujud bila dan hanya bila kita mau berpikir keras. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi dan terselesaikan atas rido-Nya. Jika aku memikirkan, mengucapkan, dan melakukan hal yang benar maka tak ada satupun alasan bagiku untuk merasa takut. Bila aku menjunjung kebenaran dan banyak orang tidak menyukainya. Fine, it is NOT a big deal at all. Ketika aku menjunjung tinggi sebuah kejujuran dan banyak orang memusuhiku. Fine, it is NOT a big deal at all. Aku adalah aku. FULL STOP. Aku hanya ingin menjalani kehidupan ini dengan cara yang sederhana: menjunjung kebenaran dan menghargai kejujuran. Tanpa kedua hal itu, sangat mustahil aku bisa mencapai sebuah kebahagiaan yang hakiki. FULL STOP
Senin, 16 November 2009
ETHER
Ether merupakan istilah filosofis yang merujuk pada substansi yang mengisi semua ruang (space). Ia menjadi ruh dari sebuah relung jiwa dan ruang kalbu bila kita mempersepsi jiwa dan kalbu sebagai sebuah ruang yang hanya akan bermakna utuh apabila terisi oleh sesuatu (essence). Apalah artinya bumi ini tanpa segala isinya? apakah sebuah buku akan disebut sebagai sebuah buku bila ia tak memiliki substansi di dalamnya? begitu pula dengan kehidupan. Apakah ia akan bermakna bila tidak memiliki ether? "tidak" adalah jawaban mutlak untuk semua pertanyaan tersebut. Berikut ini ETHER yang mengisi ruang-ruang kehidupanku:
Mela Nur Hikmah adalah pendamping hidupku yang selama enam tahun ini menjadi saksi kunci ketika aku bermetamorfosa menjadi seorang manusia yang lebih baik. Ia telah membukakan pintu hati dan pikiranku tentang hidup dan kehidupan. Ia pula yang menanamkan benih-benih cinta yang telah tumbuh menjadi sebuah bentuk keteguahn hati, keberanian, kesetiaan, kepercayaan diri yang terus berkembang, dan kemandirian yang menjadi penanda tingkat kedewasaanku. Ia telah membawaku ke dunia di mana aku bisa melihat diriku lebih dalam. Ia telah mengajakku ke hari-hari di mana kami bisa sangat menghargai setiap waktu yang berlalu dan setiap momen kecil dan besar yang akan menghampiri di masa depan. Ia telah menjadi bagian hidupku. Tak ingin hatiku beralih darinya...
Shanindya Bestralen dan Beryl Benaiah Bestralen adalah nama yang akan kuberikan untuk kedua malaikat kecilku di masa datang (yang akan segera tiba). Meskipun mereka belum terlahir ke dunia ini, ruh mereka nampaknya telah hadir menemani setiap detik kehidupanku. Bukan saja lewat mimpi mereka hadir untuk menemaniku, tapi juga lewat deru nafas dan langkahku. Sulit untuk menjelaskan secara ilmiah kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku. Kedua nama maliakat kecilku selalu terngiang di kalbuku dan mengisi penuh ruang kalbuku. Mereka menjadi pemicu utama yang membuat kehidupanku mencapai titik equilibrium. Di titik ini aku mereguk kebahagiaan hakiki sebagai seorang manusia yang terlahir untuk menghargai setiap prosess kehidupan. Shanindya dan Beryl akan menjadi matahari bagiku dan Mela kelak. Mereka akan menyinari kami seperti layaknya sang surya menyinari semesta. Semoga...
Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) lebih dari sebuah perguruan Karate bagiku. Ia merupakan tempat di mana aku merasa terlahir kembali. Di INKAI aku memiliki kesempatan untuk lebih jauh mengenali batas-batas kekuatan dan kelemahanku. Aku bukan hanya diajari bagaimana tubuh ini harus bergerak menurut prinsip-prinsip Karate yang benar, tapi juga diajari bagaimana seorang Karateka semestinya menjalankan kehidupannya. Di INKAI aku bisa mengenali batas keberanian dan ketakutanku. Aku paham apa arti sebuah kemenangan dan kekalahan; aku paham bagaimana rasanya mencapai titik tertinggi dari potensiku sebagai manusia. Karate telah meanjadi bagian hidupku sejak aku berumur 13 tahun. 14 tahun sudah aku mempelajari seni bela diri ini. Tidak pernah ada kata lelah dan bosan yang menyelimuti kalbu ini. Semakin aku memahami makna Karate yang sesungguhnya, semakin terasa indah hidup ini. Aku telah berikrar untuk tidak pernah melupakan INKAI meskipun aku berada pada titik terendah kehidupan. Aku pun telah berikrar untuk mengorbankan segala apa yang aku miliki agar INKAI (Kuningan) tetap berdiri tegak dan mencapai kejayaan yang selama ini aku cita-citakan. Semoga...
Mela Nur Hikmah adalah pendamping hidupku yang selama enam tahun ini menjadi saksi kunci ketika aku bermetamorfosa menjadi seorang manusia yang lebih baik. Ia telah membukakan pintu hati dan pikiranku tentang hidup dan kehidupan. Ia pula yang menanamkan benih-benih cinta yang telah tumbuh menjadi sebuah bentuk keteguahn hati, keberanian, kesetiaan, kepercayaan diri yang terus berkembang, dan kemandirian yang menjadi penanda tingkat kedewasaanku. Ia telah membawaku ke dunia di mana aku bisa melihat diriku lebih dalam. Ia telah mengajakku ke hari-hari di mana kami bisa sangat menghargai setiap waktu yang berlalu dan setiap momen kecil dan besar yang akan menghampiri di masa depan. Ia telah menjadi bagian hidupku. Tak ingin hatiku beralih darinya...
Shanindya Bestralen dan Beryl Benaiah Bestralen adalah nama yang akan kuberikan untuk kedua malaikat kecilku di masa datang (yang akan segera tiba). Meskipun mereka belum terlahir ke dunia ini, ruh mereka nampaknya telah hadir menemani setiap detik kehidupanku. Bukan saja lewat mimpi mereka hadir untuk menemaniku, tapi juga lewat deru nafas dan langkahku. Sulit untuk menjelaskan secara ilmiah kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku. Kedua nama maliakat kecilku selalu terngiang di kalbuku dan mengisi penuh ruang kalbuku. Mereka menjadi pemicu utama yang membuat kehidupanku mencapai titik equilibrium. Di titik ini aku mereguk kebahagiaan hakiki sebagai seorang manusia yang terlahir untuk menghargai setiap prosess kehidupan. Shanindya dan Beryl akan menjadi matahari bagiku dan Mela kelak. Mereka akan menyinari kami seperti layaknya sang surya menyinari semesta. Semoga...
Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) lebih dari sebuah perguruan Karate bagiku. Ia merupakan tempat di mana aku merasa terlahir kembali. Di INKAI aku memiliki kesempatan untuk lebih jauh mengenali batas-batas kekuatan dan kelemahanku. Aku bukan hanya diajari bagaimana tubuh ini harus bergerak menurut prinsip-prinsip Karate yang benar, tapi juga diajari bagaimana seorang Karateka semestinya menjalankan kehidupannya. Di INKAI aku bisa mengenali batas keberanian dan ketakutanku. Aku paham apa arti sebuah kemenangan dan kekalahan; aku paham bagaimana rasanya mencapai titik tertinggi dari potensiku sebagai manusia. Karate telah meanjadi bagian hidupku sejak aku berumur 13 tahun. 14 tahun sudah aku mempelajari seni bela diri ini. Tidak pernah ada kata lelah dan bosan yang menyelimuti kalbu ini. Semakin aku memahami makna Karate yang sesungguhnya, semakin terasa indah hidup ini. Aku telah berikrar untuk tidak pernah melupakan INKAI meskipun aku berada pada titik terendah kehidupan. Aku pun telah berikrar untuk mengorbankan segala apa yang aku miliki agar INKAI (Kuningan) tetap berdiri tegak dan mencapai kejayaan yang selama ini aku cita-citakan. Semoga...
Menanti Desember
Bila ada yang bertanya kepadaku tenang bulan teristimewa dalam hidupku di tahun ini, maka jawabannya adalah Desember. Ada beberapa alasan mengapa bulan Desember 2009 menjadi teramat istimewa bagiku. Berikut ini beberapa peristiwa penting yang akan menghiasi bulan Desember:
4 Desember 2009: KLa Project akan menggelar konser akbar di Kempinski Jakarta untuk menandai kiprah mereka selama 20 tahun dalam dunia musik Indonesia. Konser ini menjadi terasa begitu istimewa karena Lilo, yang sempat mengundurkan diri dari KLa untuk sejak 2001, kini kembali memperkuat nuansa musik KLa. Aku dan pasanganku berencana untuk menghadiri konser ini bila tidak ada aral melintang. Sejak 1996 aku KLa telah banyak mewarnai perjalanan hidupku. Karya-karyanya setia menemaniku ke mana pun aku pergi. Jujur saja, konser KLa ini (seolah-olah) menandai perhelatan pernikahanku yang akan diselenggarakan pada tanggal 12 Desember 2009:)
12 Desemebr 2009:: Aku dan Mela akan ditasbihkan sebagai sepasang suami dan istri. Akad nikah akan dilaksanakan pada pukul 9 di Mesjid Darul Muhajir, komplek perumahan Bumi Asri Mekarrahayu, Kopo Bandung. Jam 9 dipilih karena kami berdua meyakini bahwa angka itu memberi energi positif bagi kami. Berdasarkan astrologi Cina, angka kelahiranku adalah 9, yang berarti bahwa angka itu memberi keberuntungan dan berkah bagiku. Semoga...
15 Desember 2009: Wisuda master (Master's graduation) yang akan dilaksanakan di Gymnasium UPI menjadi penanda akhir bahwa aku telah menjadi seorang pencinta ilmu yang berada dalam level master. Gelaran wisuda ini juga menjadi penanda penting bahwa dalam waktu yang tak akan lama lagi aku akan melanjutkan studi doktoralku dalam bidang linguitik (visual grammar atau semiotics). Ini untuk kedua kalinya aku menginjakkan kaki sebagai seirang wisudawan di UPI setelah pada bulan April 2006 aku diresmikan sebagai seorang sarjana Sastra Inggris.
Akhir Desember:KLa Project akan merilis album baru. Ini merupakan album baru yang lengkap karena sebelumnya dalam titel "KLa Return" mereka merilis sebuah mini album yang berisi dua lagu baru yaitu "Someday" dan "Tak Ingin Beralih" dan dua lagu lawas "Yogyakarta" dan "Semoga" yang diberi sentuhan baru. Aku berharap bahwa aku bisa segera mendapatkan CD/kasetnya tidak lama setelah peluncuran album baru tersebut.
31 Desember 2009: selebrasi kecil hari ulang tahunku yang ke-27 akan dislenggarakan di rumah baru kami yang berlokasi di Sidaraja, Ciawigebang Kuningan. Mulai hari itu aku takkan lagi merayakannya sendirian. 31 Desember menjadi hari terakhir di tahun 2009, tahun di mana aku bermeamorfosa menjadi seorang manusia yang tahu apa yang diinginkannya dan tahu bagaimana mencapai keinginannya. Aku telah melwati batas-batas kehidupan yang hanya bisa dilalui orang-orang tertentu saja. Aku bersyukur atas apa yang telah aku capai sebelum usiaku genap 27. Hari ini pula menjadi gerbang kehidupan baru bagiku untuk mewujudkan semua mimpi besarku.
Peristiwa penting lain yang akna mewarnai bulan Desember adalah perhelatan Sea Games di Laos, ujian penurunan qyu Institut Karate-Do Indonesi (INKAI) Kuningan, dan kelahiran perdana kelinciku yang bernama Molly.
Bila semua peristiwa ini terwujud, maka lengkap sudah kebahagiaanku menanti di dulan Desember. Momen-momen indah itu sepertinya ditakdirkan untukku. Semoga semua momen indah itu tidak berhenti begitu saja. Mereka akan menjadi serpihan sejarah kehidupan yang aku jalani Aku berharap bahwa akan banyak momen indah lain yang datang menghampiri hidupku. Semoga...
4 Desember 2009: KLa Project akan menggelar konser akbar di Kempinski Jakarta untuk menandai kiprah mereka selama 20 tahun dalam dunia musik Indonesia. Konser ini menjadi terasa begitu istimewa karena Lilo, yang sempat mengundurkan diri dari KLa untuk sejak 2001, kini kembali memperkuat nuansa musik KLa. Aku dan pasanganku berencana untuk menghadiri konser ini bila tidak ada aral melintang. Sejak 1996 aku KLa telah banyak mewarnai perjalanan hidupku. Karya-karyanya setia menemaniku ke mana pun aku pergi. Jujur saja, konser KLa ini (seolah-olah) menandai perhelatan pernikahanku yang akan diselenggarakan pada tanggal 12 Desember 2009:)
12 Desemebr 2009:: Aku dan Mela akan ditasbihkan sebagai sepasang suami dan istri. Akad nikah akan dilaksanakan pada pukul 9 di Mesjid Darul Muhajir, komplek perumahan Bumi Asri Mekarrahayu, Kopo Bandung. Jam 9 dipilih karena kami berdua meyakini bahwa angka itu memberi energi positif bagi kami. Berdasarkan astrologi Cina, angka kelahiranku adalah 9, yang berarti bahwa angka itu memberi keberuntungan dan berkah bagiku. Semoga...
15 Desember 2009: Wisuda master (Master's graduation) yang akan dilaksanakan di Gymnasium UPI menjadi penanda akhir bahwa aku telah menjadi seorang pencinta ilmu yang berada dalam level master. Gelaran wisuda ini juga menjadi penanda penting bahwa dalam waktu yang tak akan lama lagi aku akan melanjutkan studi doktoralku dalam bidang linguitik (visual grammar atau semiotics). Ini untuk kedua kalinya aku menginjakkan kaki sebagai seirang wisudawan di UPI setelah pada bulan April 2006 aku diresmikan sebagai seorang sarjana Sastra Inggris.
Akhir Desember:KLa Project akan merilis album baru. Ini merupakan album baru yang lengkap karena sebelumnya dalam titel "KLa Return" mereka merilis sebuah mini album yang berisi dua lagu baru yaitu "Someday" dan "Tak Ingin Beralih" dan dua lagu lawas "Yogyakarta" dan "Semoga" yang diberi sentuhan baru. Aku berharap bahwa aku bisa segera mendapatkan CD/kasetnya tidak lama setelah peluncuran album baru tersebut.
31 Desember 2009: selebrasi kecil hari ulang tahunku yang ke-27 akan dislenggarakan di rumah baru kami yang berlokasi di Sidaraja, Ciawigebang Kuningan. Mulai hari itu aku takkan lagi merayakannya sendirian. 31 Desember menjadi hari terakhir di tahun 2009, tahun di mana aku bermeamorfosa menjadi seorang manusia yang tahu apa yang diinginkannya dan tahu bagaimana mencapai keinginannya. Aku telah melwati batas-batas kehidupan yang hanya bisa dilalui orang-orang tertentu saja. Aku bersyukur atas apa yang telah aku capai sebelum usiaku genap 27. Hari ini pula menjadi gerbang kehidupan baru bagiku untuk mewujudkan semua mimpi besarku.
Peristiwa penting lain yang akna mewarnai bulan Desember adalah perhelatan Sea Games di Laos, ujian penurunan qyu Institut Karate-Do Indonesi (INKAI) Kuningan, dan kelahiran perdana kelinciku yang bernama Molly.
Bila semua peristiwa ini terwujud, maka lengkap sudah kebahagiaanku menanti di dulan Desember. Momen-momen indah itu sepertinya ditakdirkan untukku. Semoga semua momen indah itu tidak berhenti begitu saja. Mereka akan menjadi serpihan sejarah kehidupan yang aku jalani Aku berharap bahwa akan banyak momen indah lain yang datang menghampiri hidupku. Semoga...
YLYT
Senja yang muram telah dipeluk sang malam...bintang malam belum mau bercumbu dengan sang bulan...binatang malam nampaknya belum mau memulai pesta untuk merayakan sebuah bentuk kehidupan...hanya musik bernuansa progressive rock yang menemaniku petang ini. Tak satupun buku linguistik atau novel yang aku ingin sentuh petang ini. Entah kenapa. Mungkin kalbu ini ingin aku melakukan sesuatu yang lain: berkontemplasi. Namun, capuccino panas nampaknya belum menggugah seleraku untuk bersegera berkontemplasi. Sebenarnya aku bisa berkontemplasi kapan saja, tanpa harus ditemani capuccino ataupun alunan musik yang mengalun menemani aliran nafasku. Malam ini terasa sedikit berbeda. Dan perbedaan itu disebabkan karena sebuah jam dinding "reverse clock" yang bersimbolkan numerik arab, lafadz syahadat, dan ikon sebuah mesjid yang memancarkan cahaya hijau dan biru bila diliat dari sudut tertentu di siang hari. Ada sesuatu di dalam jam dinding itu. Ia membuatku berfikir dan berfikir tentang apa yang telah aku lalui dan capai selama ini.
"Reverse Clock", jam dinding yang arah putarannya ke sebelah kiri mengikuti numerik arab, memang nampak "prominent" di kamar tidurku. Dengan nuansa hitam dan perak, ia melengkapi dengan sempurna nuansa warna furnitur yang berdiri ajeg di ruang tidurku. Ia menjadi spesial bukan karena arah putrannya yang tidak umum, tapi ia seperti ingin mengatakan padaku bahwa aku harus melihat ke belakang dan mensyukuri atas apa yang telah aku raih selama ini.
Semakin lama aku memandangi jam dinding itu, semakin aku terbawa ke masa lalu. Serpihan-serpihan masa lalu terserak dalam museum memoriku. Mereka terbentang bagai sebuah lanskap kehidupan yang begitu indah. Meskipun ada beberapa serpihan masa lalu yang bernuansa agak "kelam", aku tetap mengagapnya sebagai mozaik kehidupan penting yang memberi warna tersendiri bagiku. Beberapa serpihan masa lalu yang sempat terkuak pada saat aku berkontemplasi adalah momen-momen yang terekam sekitar delapan tahun lalu:
Bulan April 2001 untuk pertama kalinya aku menjadi seorang karateka INKAI yang berprestasi di ajang FORKI CUP 2001 yang diselenggarakan di GOR BIMA Cirebon. Aku mendapatkan medali emas untuk kelas Kumite Putera U-17 dengan mengalahkan seorang karateka Goju Ryu dari Cirebon yang berpredikat sebagai juara Jawa Barat di tahun sebelumnya. Di pertandingan final, aku berhasil menyarangkan lima pukulan yang diawali dengan harai. Aku berhak menjadi juara karena aku berhasil mengumpulkan poin 8-0. Lawanku tak bisa berbuat banyak ketika aku melakukan serangan yang bertubi-tubi. Latihan kerasku yagn diiringi doa, kesungguhan, dan keberanian ternyata berbuah manis:).
Bulan Juli 2001 aku mendapat surat penerimaan mahasiswa baru lewat jalur PMDK pada jurusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indoensia, Bandung. Setelah serangkaian tes dan wawancara yang menegangkan akhirnya aku mendapat tempat untuk melanjutkan pendidikan sarjanaku di sebuah universitas dan jurusan yang tepat. Hal ini menjadi istimewa karena aku mendapatkan apa yang dulu aku inginkan: kuliah di Bandung pada jurusan Sastra Inggris. Selain itu, aku bersukacita karena dari sekitar 650 siswa yang mendaftarkan diri lewat jalur PMDK UPI, hanya 14 orang saja yang diterima, dan aku adalah salah satunya:) Aku melalui masa studi yang begitu berat selama 4,5 tahun dan lulus dengan predikat cum laude:)
Agustus 2005 aku berperan sebagai "King Creon" dalam drama Yunani kuno berjudul "Antigone". Dalam pementasan drama berbahasa Inggris ini aku berperan sebagai protagonis. Selama proses produksi yang memakan waktu selama hampir 4,5 bulan aku juga merangkap sebagai asisten sutradara. Pementasan drama ini dianggap sukses karena ternyata pementasan "Antigone" ini baru ditampilkan dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya di kawasan Asia Tenggara dalm kurun waktu kurang lebih 40 tahun terkahir. Audience yang ikut menikmati pementasan drama ini bukan datang bukan hanya dari kelangan mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi lain saja, tapi juga ahli drama dari Bandung dan beberapa penutur bahasa Inggris dari Australia dan Amerika. Pementasan yang berdurasi 3 jam di Gedung Rumentang siang itu menjadi hal yang bersejarah bagiku yang belum pernah terliabt aktif pada sebuah pementasan drama amatir maupun profesional.
Januari 2006 aku berhasil menggondol sabuk hitam INKAI lewat ujian yang menguras kekuatan fisik dan mental. Akhirnya setelah sekian lama aku berlatih Karate, aku bisa menyempurnakan diri sebagai seorang karateka. Tak ada sedikitpun luka ketika aku meninggalkan tempat ujian, hanya ada perasaan lelah yang segera terobati ketika pertama kalinya aku memasang sabuk hitma itu di tubuhku:) Gerbang kehidupan baru sebagai seorang "blakbelter" pun terbuka lebar.
April 2006 wisuda sarjana ayng penuh hiruk pikuk. Ribuan orang datang berjejalan sperti di Mina, Arab Saudi hanya untuk menyaksikan para wisudawan dan wisudawati keluar dari hall. Begitu melelahkan...ijazah S1 dengan predikat cum laude pun aku bawa pulang dengan sejuta harapan...
September 2006 aku memulai karirku sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kuningan (UNIKU). Menjadi dosen adalah salah satu keinginan besarku. Tidak ada sedikitpun keraguan yang menghalauku untuk menadi seorang dosen. Kini setelah tiga tahun lebih au menancapkan jejak kakiku di dunia "perdosenan", bukan "perdukunan, aku semakin yakin bahwa inilah memang duniaku. Ini adalah jalanku. Ini adalah nafasku. Dengan menjadi seorang dosen aku menyempurnakan diriku sebagai seorang yang gandrung dan percaya akan keajaiban ilmu pengetahuan.
Juli 2007-Juli 2009 aku berhasil menyelesaikan studi masterku di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia. Dari sekitar empat ribu aplikan beasiswa master, hanya ada 30 orang yang diterima. Betapa beruntungnya aku. Belum genap 25 tahun usiaku, aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa master di jurusan (paling) bergengsi di Indonesia untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang aku dapat selama mengikuti program studi masterku. Aku bukan saja mendapat pencerahan baru dalam dunia linguistik, tapi juga aplikasinya dalam dunia pengajaran bahasa Inggris ebagai bahasa asing (TEFL) dan dunia penelitian bahasa. Saat ini aku sedang menanti acara wisuda masterku yang akan dislenggarakan pada tanggal 15 Desember 2009, tiga hari setelah aku melaksanakan acara pernikahanku.
Mei 2008 adalah slaah satu hari bersejarah dalam hidupku karena pada waktu itu aku meminang Mela untuk menjaid istriku. Setelah menunggu lima tahun akhirnya aku memutuskan untuk mengarungi hidup dengannya di sisa hidupku. Dan, pada 12 Desember nanti ia akan resmi menjadi istriku untuk yang pertama dan terakhir...aamiin...setelah acara sakral itu kami berdua akan merealisasikan apa yang telah kami bangun selama ini: memiliki momongan dan hijrah ke Australia untuk beberapa tahun ke depan. Dari sejak dulu aku merencanakan untuk mengambil Ph.D-ku di salah satu universitas di Australia. Merupakan sebuah kesempatan yang membahagiakan bila aku bisa mengenyam ilmu di sebuah negara yagn memang sangat menghargai dunia ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan dahagaku akan ilmu linguistik bisa terpuaskan ketika aku mengenyam ilmu di Australia. Namun, tak ada kata puas dalam ilmu pengetahun selama bumi ini berputar. Aku berharap bisa memboyong mereka untuk menemani dan menyaksikan semua detil perjuanganku untuk menjadi seorang ilmuwan sejati dalam bidang linguistik. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa dengan ikhlas dan tanpa henti agar mimpi besar in terwujud dalam waktu dekat. Semoga...
"Reverse Clock", jam dinding yang arah putarannya ke sebelah kiri mengikuti numerik arab, memang nampak "prominent" di kamar tidurku. Dengan nuansa hitam dan perak, ia melengkapi dengan sempurna nuansa warna furnitur yang berdiri ajeg di ruang tidurku. Ia menjadi spesial bukan karena arah putrannya yang tidak umum, tapi ia seperti ingin mengatakan padaku bahwa aku harus melihat ke belakang dan mensyukuri atas apa yang telah aku raih selama ini.
Semakin lama aku memandangi jam dinding itu, semakin aku terbawa ke masa lalu. Serpihan-serpihan masa lalu terserak dalam museum memoriku. Mereka terbentang bagai sebuah lanskap kehidupan yang begitu indah. Meskipun ada beberapa serpihan masa lalu yang bernuansa agak "kelam", aku tetap mengagapnya sebagai mozaik kehidupan penting yang memberi warna tersendiri bagiku. Beberapa serpihan masa lalu yang sempat terkuak pada saat aku berkontemplasi adalah momen-momen yang terekam sekitar delapan tahun lalu:
Bulan April 2001 untuk pertama kalinya aku menjadi seorang karateka INKAI yang berprestasi di ajang FORKI CUP 2001 yang diselenggarakan di GOR BIMA Cirebon. Aku mendapatkan medali emas untuk kelas Kumite Putera U-17 dengan mengalahkan seorang karateka Goju Ryu dari Cirebon yang berpredikat sebagai juara Jawa Barat di tahun sebelumnya. Di pertandingan final, aku berhasil menyarangkan lima pukulan yang diawali dengan harai. Aku berhak menjadi juara karena aku berhasil mengumpulkan poin 8-0. Lawanku tak bisa berbuat banyak ketika aku melakukan serangan yang bertubi-tubi. Latihan kerasku yagn diiringi doa, kesungguhan, dan keberanian ternyata berbuah manis:).
Bulan Juli 2001 aku mendapat surat penerimaan mahasiswa baru lewat jalur PMDK pada jurusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indoensia, Bandung. Setelah serangkaian tes dan wawancara yang menegangkan akhirnya aku mendapat tempat untuk melanjutkan pendidikan sarjanaku di sebuah universitas dan jurusan yang tepat. Hal ini menjadi istimewa karena aku mendapatkan apa yang dulu aku inginkan: kuliah di Bandung pada jurusan Sastra Inggris. Selain itu, aku bersukacita karena dari sekitar 650 siswa yang mendaftarkan diri lewat jalur PMDK UPI, hanya 14 orang saja yang diterima, dan aku adalah salah satunya:) Aku melalui masa studi yang begitu berat selama 4,5 tahun dan lulus dengan predikat cum laude:)
Agustus 2005 aku berperan sebagai "King Creon" dalam drama Yunani kuno berjudul "Antigone". Dalam pementasan drama berbahasa Inggris ini aku berperan sebagai protagonis. Selama proses produksi yang memakan waktu selama hampir 4,5 bulan aku juga merangkap sebagai asisten sutradara. Pementasan drama ini dianggap sukses karena ternyata pementasan "Antigone" ini baru ditampilkan dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya di kawasan Asia Tenggara dalm kurun waktu kurang lebih 40 tahun terkahir. Audience yang ikut menikmati pementasan drama ini bukan datang bukan hanya dari kelangan mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi lain saja, tapi juga ahli drama dari Bandung dan beberapa penutur bahasa Inggris dari Australia dan Amerika. Pementasan yang berdurasi 3 jam di Gedung Rumentang siang itu menjadi hal yang bersejarah bagiku yang belum pernah terliabt aktif pada sebuah pementasan drama amatir maupun profesional.
Januari 2006 aku berhasil menggondol sabuk hitam INKAI lewat ujian yang menguras kekuatan fisik dan mental. Akhirnya setelah sekian lama aku berlatih Karate, aku bisa menyempurnakan diri sebagai seorang karateka. Tak ada sedikitpun luka ketika aku meninggalkan tempat ujian, hanya ada perasaan lelah yang segera terobati ketika pertama kalinya aku memasang sabuk hitma itu di tubuhku:) Gerbang kehidupan baru sebagai seorang "blakbelter" pun terbuka lebar.
April 2006 wisuda sarjana ayng penuh hiruk pikuk. Ribuan orang datang berjejalan sperti di Mina, Arab Saudi hanya untuk menyaksikan para wisudawan dan wisudawati keluar dari hall. Begitu melelahkan...ijazah S1 dengan predikat cum laude pun aku bawa pulang dengan sejuta harapan...
September 2006 aku memulai karirku sebagai dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kuningan (UNIKU). Menjadi dosen adalah salah satu keinginan besarku. Tidak ada sedikitpun keraguan yang menghalauku untuk menadi seorang dosen. Kini setelah tiga tahun lebih au menancapkan jejak kakiku di dunia "perdosenan", bukan "perdukunan, aku semakin yakin bahwa inilah memang duniaku. Ini adalah jalanku. Ini adalah nafasku. Dengan menjadi seorang dosen aku menyempurnakan diriku sebagai seorang yang gandrung dan percaya akan keajaiban ilmu pengetahuan.
Juli 2007-Juli 2009 aku berhasil menyelesaikan studi masterku di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia. Dari sekitar empat ribu aplikan beasiswa master, hanya ada 30 orang yang diterima. Betapa beruntungnya aku. Belum genap 25 tahun usiaku, aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa master di jurusan (paling) bergengsi di Indonesia untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang aku dapat selama mengikuti program studi masterku. Aku bukan saja mendapat pencerahan baru dalam dunia linguistik, tapi juga aplikasinya dalam dunia pengajaran bahasa Inggris ebagai bahasa asing (TEFL) dan dunia penelitian bahasa. Saat ini aku sedang menanti acara wisuda masterku yang akan dislenggarakan pada tanggal 15 Desember 2009, tiga hari setelah aku melaksanakan acara pernikahanku.
Mei 2008 adalah slaah satu hari bersejarah dalam hidupku karena pada waktu itu aku meminang Mela untuk menjaid istriku. Setelah menunggu lima tahun akhirnya aku memutuskan untuk mengarungi hidup dengannya di sisa hidupku. Dan, pada 12 Desember nanti ia akan resmi menjadi istriku untuk yang pertama dan terakhir...aamiin...setelah acara sakral itu kami berdua akan merealisasikan apa yang telah kami bangun selama ini: memiliki momongan dan hijrah ke Australia untuk beberapa tahun ke depan. Dari sejak dulu aku merencanakan untuk mengambil Ph.D-ku di salah satu universitas di Australia. Merupakan sebuah kesempatan yang membahagiakan bila aku bisa mengenyam ilmu di sebuah negara yagn memang sangat menghargai dunia ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan dahagaku akan ilmu linguistik bisa terpuaskan ketika aku mengenyam ilmu di Australia. Namun, tak ada kata puas dalam ilmu pengetahun selama bumi ini berputar. Aku berharap bisa memboyong mereka untuk menemani dan menyaksikan semua detil perjuanganku untuk menjadi seorang ilmuwan sejati dalam bidang linguistik. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa dengan ikhlas dan tanpa henti agar mimpi besar in terwujud dalam waktu dekat. Semoga...
Jumat, 13 November 2009
People's natural consciousness is sticky because they have not trodden the steps to enlightenment. they have stuck fast to various things for a long time. Even as they partake of the hidden essence, they cannot use it as medicine. Even as they hear words beyond conceptions, they cannot believe completely.
This is why Gautama spent forty-nine days in silent contemplation under the tree where he was enlightened. Wisdom is obscure, difficult to explain; there is nothing to which i may be likened. (taken from "The Five Houses of Zen").
"Bestralen" is from which I start searching the path of enlightenment...
This is why Gautama spent forty-nine days in silent contemplation under the tree where he was enlightened. Wisdom is obscure, difficult to explain; there is nothing to which i may be likened. (taken from "The Five Houses of Zen").
"Bestralen" is from which I start searching the path of enlightenment...
Meretas Realitas Lewat Identitas
Selamat pagi semesta.
Pagi ini terlalu indah untuk dilewatkan. Sidaraja, lokasi rumah baru saya, telah memberi saya energi kehidupan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Kicauan burung liar, suara kodok yang menderu, dan udara yang begitu bersih. Saya sangat bersyukur atas apa yang saya alami dan rasakan selama tiga bulan ini di Sidaraja, Kuningan.
Keindahan pagi ini saya isi dengan menuliskan sesuatu yang ada di benak saya. Saya teringat akan pepatah ini "Ideas have wings", yang berarti bahwa ktia harus menuliskan apa yang ada di benak kita sebelum gagasan-gagasan yang kita punya terbang entah ke mana. Saya hanya ingin berbagi bahwa saya kelak akan menggunakan nama "bestralen" untuk nama belakang anak-anak saya. Nama ini terdengar begitu "catchy" karena mudah untuk dilafalkan, namun memiliki makna yang begitu mendalam. Saya ingin sekali mendapat pencerahan baru dari setiap pengalaman baru dan dari apa yang saya miliki. Saya berharap bahwa kehadiran malaikat-malaikat kecil saya dapat meningkatkan pemahaman saya atas hidup dan kehidupan yang saya jalani.
Sedikit nampak absurd memang ketika saya yang baru mau meinkah tapi sudah memiliki nama-nama untuk (calon) anak saya. Tapi, saya melihat ini sebagai upaya serius saya dalam merencanakan sebuah desain hidup yang lebih gambalang dan detil. Secara linguistik, nama memang tidak memberi definisi terhadap si pemilik naman, namun saya selalu percaya bahwa nama membentuk identitas kita sebagai manusia. Identitas merupakan fitrah yang alamiah dan melekat sampai sang pemilik nama tersebut meninggalkan dunia ini. Hal yang paling esensial yang bisa digali dari hal ini adalah bahwa sebuah nama memberi dimensi personal dan spiritual yang berdampak pada pemahaman si pemlik nama terhadap hidup dan kehidupannya.
Ketika seseorang tidak mampu memahami secara utuh arti di balik namanya, maka dimensi personal dan spiritualnya tidak akan terbentuk. Sekalipun ia terbentuk, tapi konstruksinya tidaklah kokoh. Akibat terburuk dari hal ini adalah keadaan di mana kita tidak tahu siapa kita, apa yang harus kita lakukan, kenapa kita kita dilahirkan, dsb. Ini menunjukkan bahwa pemahaman ktia atas sebuah identitas (diri) membentuk persepsi kita atas realitas "dunia" kita. Untuk memahami dunia secara utuh kita sebagai manusia dituntut untuk memiliki pemahaman yang utuh tentang dirinya. Untuk memahami identitas secara utuh, kit aharus merunut sejarah kita dilahirkan dan mencari kebenaran atas apa yang diharapkan orangtua kita dengan memberi nama kita nama tertentu. Pemberian nama, dalam pandangan saya sebagai peminat Systemic Linguistics, memiliki tujuan. Tidak ada satu pun penciptaan yang bersifat "purposeless" atau tanpa tujuan. Selalu ada motif dan tujuan tertentu ayng menyelubungi sebuah prosess penciptaan. Begitu pula dengan pelabelan sebuah entitas.
Pemahaman akan realitas dengan menggunakan teropong identitas tentu saja bukanlah perkara mudah. Kita harus melalui proses yang begitu panjang untuk memahami siapa kita dan di mana kita berada, dan proses itu harus benar-benar dinikmati. Titik akhir dari proses memahami diri adalah terbentuknya kawah kesadaran atas esensi kita sebagai makhluk. Merupakan kenikmatan yang luar biasa ketika kita bisa melihat diri secara tajam dan utuh. Dari sinilah kehidupan mesti dimaknai. Dari sinilah kita meretas jalan kehidupan yang penuh makna. Semoga...
Pagi ini terlalu indah untuk dilewatkan. Sidaraja, lokasi rumah baru saya, telah memberi saya energi kehidupan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Kicauan burung liar, suara kodok yang menderu, dan udara yang begitu bersih. Saya sangat bersyukur atas apa yang saya alami dan rasakan selama tiga bulan ini di Sidaraja, Kuningan.
Keindahan pagi ini saya isi dengan menuliskan sesuatu yang ada di benak saya. Saya teringat akan pepatah ini "Ideas have wings", yang berarti bahwa ktia harus menuliskan apa yang ada di benak kita sebelum gagasan-gagasan yang kita punya terbang entah ke mana. Saya hanya ingin berbagi bahwa saya kelak akan menggunakan nama "bestralen" untuk nama belakang anak-anak saya. Nama ini terdengar begitu "catchy" karena mudah untuk dilafalkan, namun memiliki makna yang begitu mendalam. Saya ingin sekali mendapat pencerahan baru dari setiap pengalaman baru dan dari apa yang saya miliki. Saya berharap bahwa kehadiran malaikat-malaikat kecil saya dapat meningkatkan pemahaman saya atas hidup dan kehidupan yang saya jalani.
Sedikit nampak absurd memang ketika saya yang baru mau meinkah tapi sudah memiliki nama-nama untuk (calon) anak saya. Tapi, saya melihat ini sebagai upaya serius saya dalam merencanakan sebuah desain hidup yang lebih gambalang dan detil. Secara linguistik, nama memang tidak memberi definisi terhadap si pemilik naman, namun saya selalu percaya bahwa nama membentuk identitas kita sebagai manusia. Identitas merupakan fitrah yang alamiah dan melekat sampai sang pemilik nama tersebut meninggalkan dunia ini. Hal yang paling esensial yang bisa digali dari hal ini adalah bahwa sebuah nama memberi dimensi personal dan spiritual yang berdampak pada pemahaman si pemlik nama terhadap hidup dan kehidupannya.
Ketika seseorang tidak mampu memahami secara utuh arti di balik namanya, maka dimensi personal dan spiritualnya tidak akan terbentuk. Sekalipun ia terbentuk, tapi konstruksinya tidaklah kokoh. Akibat terburuk dari hal ini adalah keadaan di mana kita tidak tahu siapa kita, apa yang harus kita lakukan, kenapa kita kita dilahirkan, dsb. Ini menunjukkan bahwa pemahaman ktia atas sebuah identitas (diri) membentuk persepsi kita atas realitas "dunia" kita. Untuk memahami dunia secara utuh kita sebagai manusia dituntut untuk memiliki pemahaman yang utuh tentang dirinya. Untuk memahami identitas secara utuh, kit aharus merunut sejarah kita dilahirkan dan mencari kebenaran atas apa yang diharapkan orangtua kita dengan memberi nama kita nama tertentu. Pemberian nama, dalam pandangan saya sebagai peminat Systemic Linguistics, memiliki tujuan. Tidak ada satu pun penciptaan yang bersifat "purposeless" atau tanpa tujuan. Selalu ada motif dan tujuan tertentu ayng menyelubungi sebuah prosess penciptaan. Begitu pula dengan pelabelan sebuah entitas.
Pemahaman akan realitas dengan menggunakan teropong identitas tentu saja bukanlah perkara mudah. Kita harus melalui proses yang begitu panjang untuk memahami siapa kita dan di mana kita berada, dan proses itu harus benar-benar dinikmati. Titik akhir dari proses memahami diri adalah terbentuknya kawah kesadaran atas esensi kita sebagai makhluk. Merupakan kenikmatan yang luar biasa ketika kita bisa melihat diri secara tajam dan utuh. Dari sinilah kehidupan mesti dimaknai. Dari sinilah kita meretas jalan kehidupan yang penuh makna. Semoga...
Kamis, 12 November 2009
Di Balik Nama Itu (kedua)
Bestralen...
dan proses pemahaman saya terhadap kata "bestralen" pun terus berlanjut. Ketika saya membaca salah satu artikel Halliday dalam kumpulan karyanya yang terbit dalam "On Language and Linguistics", inti dari semua yang kita pelajari adalah "understanding" alias pemahaman. Sejak kecil kita diajari berbagai macam hal agar pusat kesadaran kita menjadi aktif. Aktivasi pusat kesadaran itu ternyata berdampak pada begitu banyak hal yang menyelimuti keseharian kita. Ketika langit biru yang cerah tiba-tiba menjadi awan yang bergelayutan bagai hantu-hantu yang bergentayangan, kita paham bahwa keadaan seperti itu akan melahirkan fenomena alam yang kita sebut hujan. Ketika kita merasa begitu lapar, kita mengerti bahwa tubuh kita membutuhkan asupan makanan. Ketika mata terasa begitu berat, maka kita pun mafhum bahwa otak kita memerintahkan tubuh ktia untuk beristirahat. Ini hanyalah contoh-contoh sederhana di mana pengetahuan dan pengalaman yang kita bangun sejak kecil memberi kita sebuah bentuk pemahaman tertentu dalam konteks tertentu pula. Dengan memiliki pemahaman seperti ini, manusia mampu bertahan hidup. Semakin banyak bentuk pengetahuan dan pengalaman yang diakuisisi oleh seorang manusia, maka bertambah pulalah perspektif pemahaman dia mengenai banyak hal. Hal terindah yang (mungkin) bisa terjadi pada jenis orang semacam ini adalah bahwa ia memiliki kesempatan untuk membangun asosiasi makna yang utuh dari berbagai mozaik-mozaik pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki. Pada akhirnya, orang semacam ini akan memiliki perspektif hidup yang utuh sehingga mampu melihat setiap persoalan hidup dari berbagai angle. Jujur saja, saya sangat ingin menjadi seorang macam itu. Saya ingin menjadikan setiap bentuk pengetahuan dan pengalaman saya sebagai bahan baku sebuah proses pencarian akan cahaya. Ketika saya telah mencapai sebuah bentuk pemahaman dalam level tertentu, maka terindikasikan sebagai orang yang diberkahi seberkas cahaya. Semoga...
dan proses pemahaman saya terhadap kata "bestralen" pun terus berlanjut. Ketika saya membaca salah satu artikel Halliday dalam kumpulan karyanya yang terbit dalam "On Language and Linguistics", inti dari semua yang kita pelajari adalah "understanding" alias pemahaman. Sejak kecil kita diajari berbagai macam hal agar pusat kesadaran kita menjadi aktif. Aktivasi pusat kesadaran itu ternyata berdampak pada begitu banyak hal yang menyelimuti keseharian kita. Ketika langit biru yang cerah tiba-tiba menjadi awan yang bergelayutan bagai hantu-hantu yang bergentayangan, kita paham bahwa keadaan seperti itu akan melahirkan fenomena alam yang kita sebut hujan. Ketika kita merasa begitu lapar, kita mengerti bahwa tubuh kita membutuhkan asupan makanan. Ketika mata terasa begitu berat, maka kita pun mafhum bahwa otak kita memerintahkan tubuh ktia untuk beristirahat. Ini hanyalah contoh-contoh sederhana di mana pengetahuan dan pengalaman yang kita bangun sejak kecil memberi kita sebuah bentuk pemahaman tertentu dalam konteks tertentu pula. Dengan memiliki pemahaman seperti ini, manusia mampu bertahan hidup. Semakin banyak bentuk pengetahuan dan pengalaman yang diakuisisi oleh seorang manusia, maka bertambah pulalah perspektif pemahaman dia mengenai banyak hal. Hal terindah yang (mungkin) bisa terjadi pada jenis orang semacam ini adalah bahwa ia memiliki kesempatan untuk membangun asosiasi makna yang utuh dari berbagai mozaik-mozaik pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki. Pada akhirnya, orang semacam ini akan memiliki perspektif hidup yang utuh sehingga mampu melihat setiap persoalan hidup dari berbagai angle. Jujur saja, saya sangat ingin menjadi seorang macam itu. Saya ingin menjadikan setiap bentuk pengetahuan dan pengalaman saya sebagai bahan baku sebuah proses pencarian akan cahaya. Ketika saya telah mencapai sebuah bentuk pemahaman dalam level tertentu, maka terindikasikan sebagai orang yang diberkahi seberkas cahaya. Semoga...
Di Balik Nama "Bestralen"
Bestralen.
Di suatu pagi, sembilan tahun yang lalu, saya menemukan kata ini dalam sebuah kamus Bahasa Belanda terbitan tahun 1960-an. Secara sederhana, lekisografer kamus itu memberi definisi leksikal untuk kata tersebut "menyinari". Kata "bestralen" ini memiliki phoneme yang enak untuk dilafalkan dan secara semantik memiliki makna yang ternyata begitu mendalam bagi saya yang sedang menyempurnakan perjalanan kehidupan saya. Sejak saat itulah "bestralen" menjadi entri yang begitu penting dalam linguistic reportoire saya. Semakin banyak pengalaman hidup saya, semakin dalam saya memaknai kata tersebut. Maka dengan penuh kesadaran, saya mematenkan kata tersebut di dalam benak dan perilaku saya sehari-hari, hingga lahirlah sebuah prinsip hidup yang begitu mendalam: segala apa yang saya pikirkan dan lakukan harus mampu membawa saya ke jalan cahaya. Jalan cahaya, dalam bahasa sufistik, merupakan jalan kebenaran yang membawa kebahagiaan yang hakiki. Jalan cahaya adalah jalan yang dinaungi atmosfir spiritual yang agung, jalan yang dibangun dengan rasa penyerahan total kepada Sang Pencipta, dan jalan yang hanya akan mewujud bila dipahami lewat gerbang ilmu pengetahuan. Ilmulah yang membawa kita ke gerbang cahaya. Ilmulah yang menuntun kita untuk mengenal Sang Maha Cinta. "Bestralen" adalah hakikat sang surya yang tak pernah lelah menyinari semesta. Semoga ini menjadi mozaik hidup berharga yang bisa menuntun saya ke jalan cahaya. Semoga...
Di suatu pagi, sembilan tahun yang lalu, saya menemukan kata ini dalam sebuah kamus Bahasa Belanda terbitan tahun 1960-an. Secara sederhana, lekisografer kamus itu memberi definisi leksikal untuk kata tersebut "menyinari". Kata "bestralen" ini memiliki phoneme yang enak untuk dilafalkan dan secara semantik memiliki makna yang ternyata begitu mendalam bagi saya yang sedang menyempurnakan perjalanan kehidupan saya. Sejak saat itulah "bestralen" menjadi entri yang begitu penting dalam linguistic reportoire saya. Semakin banyak pengalaman hidup saya, semakin dalam saya memaknai kata tersebut. Maka dengan penuh kesadaran, saya mematenkan kata tersebut di dalam benak dan perilaku saya sehari-hari, hingga lahirlah sebuah prinsip hidup yang begitu mendalam: segala apa yang saya pikirkan dan lakukan harus mampu membawa saya ke jalan cahaya. Jalan cahaya, dalam bahasa sufistik, merupakan jalan kebenaran yang membawa kebahagiaan yang hakiki. Jalan cahaya adalah jalan yang dinaungi atmosfir spiritual yang agung, jalan yang dibangun dengan rasa penyerahan total kepada Sang Pencipta, dan jalan yang hanya akan mewujud bila dipahami lewat gerbang ilmu pengetahuan. Ilmulah yang membawa kita ke gerbang cahaya. Ilmulah yang menuntun kita untuk mengenal Sang Maha Cinta. "Bestralen" adalah hakikat sang surya yang tak pernah lelah menyinari semesta. Semoga ini menjadi mozaik hidup berharga yang bisa menuntun saya ke jalan cahaya. Semoga...
Langganan:
Komentar (Atom)