Selamat pagi semesta. Pagi ini dihiasi oleh iringan orkestra hujan yang begitu memanjakan jiwa dan ragaku. Konduktor orkestrasi pagi ini dipimpin oleh malaikat yang ditugasi Sang Maha Cinta. Para musisi yang terlibat dalam orkestrasi itu bukan saja para malaikat yang berjaga dari senja hingga pagi menjelang tapi juga para burung malam yang pulang kesiangan dan para burung pagi yang bangun sedikit kesiangan. Burung-burung itu melantunkan pujian kepada Sang Maha Cinta seraya merayakan kegembiraan mereka atas berkah kehidupan yang selama ini mereka nikmati. Orkestrasi hujan yang diiringi nyanyian para burung tersebut membuat pagi yang dingin ini menjadi terasa sangat indah. Begitu memukau. Begitu menyentuh jiwa. Orkestrasi ini tak ada duanya.
Orkestrasi alam ini adalah musik terindah yang pernah aku dengar selama aku menempati rumah baruku yang berlokasi di kawasan Sidaraja. Orkestrasi ini adalah sebuah keajaiban pagi yang jarang terdengar. Dalam udara dingin yang menyelimuti Sidaraja, para makhluk itu bersukacita menyambut hari yang baru. Mereka selalu bersukacita merayakan kehidupan tanpa pernah sekalipun mengeluh. Mereka nampaknya turut bersukacita atas kehadiranku di Sidaraja. Mereka pun nampaknya ikut merayakan atas apa yang akan aku lalui tujuh hari lagi.
Tujuh hari dari sekarang, tepatnya tanggal 12 Desember 2009, aku dan Mel akan ditasbihkan sebagai sepasang suami istri yang terikat janji-janji pernikahan suci yang wajib kami tepati. Akhirnya hari yang sakral nan indah itu datang menghiasi kami. Setelah akad nikah berlangsung, maka kami berdua akan berdiri di tahta suci kehidupan untuk membuktikan kepada dunia bahwa kami selama ini telah berhasil menyemai benih-benih kasih meskipun kami kerap kali terpisah jarak dan waktu. Pada hari yang sakral itu kami mengikrarkan diri sebagai manusia yang punya fitrah untuk saling mencintai satu sama lain. Segala kewajiban dan hak yang akan kami pikul telah terangkum dalam buku kehidupan yang kami simpan dalam kalbu kami. Kalendar kehidupan kami akan terlalui dengan derai tawa bahagia. Meskipun badai mungkin menghadang, kami kan selalu menatap dunia dengan penuh harap seraya berbuat yang terbaik untuk meraih apa yang telah kami cita-citakan selama ini.
Setelah hari sakral itu aku dan Mel akan memasuki gerbang kehidupan baru sebagai sepasang pecinta yang selalu mengharap keberkahan dari Sang Maha Cinta. Kami berdua akan bahu membahu mengarungi samudera kehidupan yang begitu luas. Dengan penuh harapan dan doa, kami berdua akan mengarahkan biduk kehidupan kami menuju tanah-tanah impian: Australia, Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Karena hidup ini begitu singkat, sejak dulu kami bercita-cita bahwa kami harus menginjakkan kaki-kaki kami dan anak-anak kami, Shanindya dan Beryl, di tanah-tanah impian tersebut. Kami ingin mereguk kehidupan dalam dimensi ruang dan zona waktu yang berbeda agar kami mampu memahami keterbatasan kami sebagai manusia. Kami ingin menikmati aroma ilmu pengetahuan di tnaah-tanah impian tersebut agar piramida pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki menjadi jauh lebih sempurna. Kami ingin menikmati ritme kehidupan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda agar kami bisa merasakan kebesaran Sang Maha Cinta.
Ketika kami telah memiliki banayak kesempatan untuk menyempurnakan piramida pengetahuan kami, kami akan kembali ke tanah tempat kami dulu dilahirkan dan dibesarkan. Kami akan membagikan cerita kepada orang-orang bahwa setiap jenis kehidupan adalah keindahan yang tiada tara. Segala perbedaan yang telah kami temui di tanah-tanah impian adalah sebuah berkah yang tak ada duanya. Kami ingin berbagi cerita tentang kehidupan. Ketika kami di usia senja nanti, kami akan menceritakan hal yang sama kepada anak cucu kami. Kami pun berharap mereka dapat meneruskan perjalanan kami yang mungkin belum sepenuhnya terselesaikan.
Gerbang kehidupan baru ini memberi kami energi yang begitu besar untuk menatap kehidupan dengan penuh keberanian. Kami tak pernah takut untuk bermimpi karena mimpi-mimpi itulah yang ternyata menjadi sulut kehidupan kami. Kami tak pernah ragu atas apa yang Sang Maha Cinta telah berikan kepada kami. Sedikitpun kami tak pernah gentar menghalau badai yang menghadang. Dengan sebuah penyerahan penuh kepada Sang Maha Cinta, kami gantungkan segala apa yang kami rasakan dan pikirkan kepada-Nya. Semoga gerbang baru kehidupan yang akan kami lalui membimbing kami untuk menemukan cahaya-cahaya kehidupan yang baru. Bestralen....amen...
Jumat, 04 Desember 2009
Senin, 30 November 2009
Firman Pertama
Iqra! Bacalah!
Telah berjuta kali firman Allah ini dukmandangkan terutama dalam berbagai konteks pendidkan secara luas. Namun, sejauh ini nampaknya firman Allah yang pertama ini tidak melekat di kalbu baik peserta didik dan pendidik itu sendiri. Ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan dan sangat disayangkan...
Sebagai seorang muslim yang tertarik dalam bidang Pragmatics, saya melihat firman pertama Allah tersebut dari dua sisi. Pada sisi yang pertama, saya menafsirkan firman tersebut sebagai fondasi membangun ketauhidan (dan tentu saja ketakwaan). Pertanyaan relevan yang bisa diajukan terhadap proposisi ini adalah: (1) Kenapa aktifitas membaca yang justru dijadikan firman pertama? (2) Kenapa ayat pertama yang turun itu tidak memerintahkan manusia untuk syahadat, sholat, puasa, atau bahkan naik haji? (3) Konteks apa yang hendak dibangun dengan diturunkannya ayat ini?
Saya bukanlah ahli tafsir ataupun ahi fikih, namun saya mencoba memahaminya secara sederhana saja. Ayat ini menandai kerasulan Muhamad SAW sebagai utusan Allah. Dalam jejak rekamnya, ayat ini diturunkan Allah kepada nabi Muhamad melalui malaikat Jibril. Ayat ini datang sebelum Muhamad ditugaskan untuk menyebarluaskan agama Islam yang berlandaskan ketauhidan: percaya dan menyerahkan diri kepada satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Hal ini jelas mengindikasikan bahwa Allah Sang Maha Esa mengingikan Muhamad untuk bisa membaca agar pesan-pesan-Nya dapat didakwahkan dan diterima oleh manusia lain. Pesan utama dari turunya ayat ini adalah bahwa ketakwaan harus dibangun denagn membaca. Kenapa membaca? jawabannya adalh tidak lain tidak bukan karena membaca (dan menulis) adalah aktifitas utama dalam upaya mencari ilmu pengetahuan dan pencerahan. Oleh karena itu, ketakwaan harus didasarkan pada ilmu. Hanya dengan menguasai ilmu tentang Allah-lah maka ketakwaan bisa terbangun. Ketakwaan yang tidak dikonstruksi dengan ilmu hanyalah sesuatu yang semu. Sesuatu yang tidak memiliki hirarki spiritual yang bermakna.
Pesan lain yang dari peristiwa turunnya ayat pertama ini adalah bahwa sebuah kebudayaan juga harus didasarkan pada aktifitas literat: membaca, menulis, meneliti. Setelah Muhamad menjadi literat, barulah beliau ditugaskan Allah Sang Maha Esa untuk menyebarluaskan tentang Islam sebagai rohmat kepada seluruh alam. Melalui perjuangan tanpa lelah selama dua abad lebih, Muhamad merubah kota Mekkah dan Madinah menjadi pusat peradaban dunia. Setelah beliau wafat pun, kegairahan umat Islam yang gandrung pada aktifitas baca-tulis-teliti terus berlanjut. ini dibuktikan dengan adanya penulisan hadits dan quran yang diinisiasi oleh para sahabat nabi dan para pengikutnya. Andalusia dan Persia adalah representasi sempurna di mana kebudayaan Islam berbasis literasi menjelma menjadi kejayaan Islam yang berlangsung hampir kurang lebih 500 tahun. Meskipun kebudayaan dan kejayaan Islam tidak lagi mendominasi warna dunia posmodern, kita masih tetap bisa melihat fakta bahwa bangsa berbasis literasi yang kental sekarang menjadi penguasa dunia. Tengoklah Amerika Serikat & Kanada, Eropa Barat, dan Australia. Meskipun bukan negara Islam, dengan mendasarkan aspek-aspek kehidupan lewat literasi yang kuat, para penduduk di negara-negara tersebut mampu menikmati kemakmuran dan kedigdayaan intelektual. Tidak mengherankan jika negara-negara tersebut menjadi ladang gula bagi para imigran dan pencari suaka yang bermimpi untuk mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik.
Dari sisi yang lain, saya melihat firman pertama yang Allah turunkan kepada nabi Muhamad itu sebagai penanda otoritas dan kekuasaan-Nya yang tidak berbatas. Firman tersebut digramatikalisasi dalam bentuk imperative (kalimat perintah). Dalam Pragmatics, tindak tutur (speech act) ini dikategorikan sebagai directive. Kalimat perintah yang dikonsruksi seperti ini memunculkan sebuah tafsiran spiritual baru bagi saya: Allah SWT secara tegas memabngun identitas-Nya sebagai sebuah entitas yang Maha Kuasa. Dalam sosiologi komunikasi, sebuah declarative yang dikonstruksi dengan sederhana seperti "Iqra" mengindikasikan dengan kuat bahwa si pembicara memiliki power yang (jauh) lebih besar daripada pendengar. Sebagai penguasa langit dan bumi, Allah memiliki kekuasaan yang tak berbatas. DIA memiliki hak penuh atas makhluknya. DIA memiliki hak penuh atas segala peristiwa yang ada di langit dan di bumi. DIA adalah penguasa dari segala penguasa. Raja dari segala raja.
Lalu, dari locution "Iqra!" ini, apa yang bisa kita pahami?
Dalam Pragmatik, yang menjadi bahasan utama sebuah tindak tutur adalah illocutionary act alias intensi dari ujaran yang diproduksi oleh si pembicara. Ilokusi dari firman pertama Allah kepada Muhamad adalah bahwa manusia (khusunya yang telah berikrar tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan-Nya) harus melandaskan hidup dan kehidupannya pada aktifitas baca-tulis-meneliti. Hanya dengan fondasi ilmu pengetahuanlah iman keimanan dan ketakwaan bisa terbangun dan terpelihara. Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah manusia mampu mencapai derajat kehidupan yang tinggi seperti janji Allah bahwa DIA akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Ini adalah sebuah janji Tuhan yang tidak mungkin DIA langgar. Lewat tindak tutur directive ini, Allah sebenarnya menegaskan bahwa kebahagiaan yang hakiki hanya bisa tercapai dengan menguasai ilmu pengetahuan. Tentu saja ilmu pengetahuan mesti didasarkan pada ilmu tentang Allah (Hakikat Allah sebagai penguasa langit dan bumi. Dengan memahami hakikat Allah, kita sebenarnya sedang berupaya untuk meretas jalan menuju tempat terindah di semesta: surga. Bacalah, bacalah, bacalah...
Telah berjuta kali firman Allah ini dukmandangkan terutama dalam berbagai konteks pendidkan secara luas. Namun, sejauh ini nampaknya firman Allah yang pertama ini tidak melekat di kalbu baik peserta didik dan pendidik itu sendiri. Ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan dan sangat disayangkan...
Sebagai seorang muslim yang tertarik dalam bidang Pragmatics, saya melihat firman pertama Allah tersebut dari dua sisi. Pada sisi yang pertama, saya menafsirkan firman tersebut sebagai fondasi membangun ketauhidan (dan tentu saja ketakwaan). Pertanyaan relevan yang bisa diajukan terhadap proposisi ini adalah: (1) Kenapa aktifitas membaca yang justru dijadikan firman pertama? (2) Kenapa ayat pertama yang turun itu tidak memerintahkan manusia untuk syahadat, sholat, puasa, atau bahkan naik haji? (3) Konteks apa yang hendak dibangun dengan diturunkannya ayat ini?
Saya bukanlah ahli tafsir ataupun ahi fikih, namun saya mencoba memahaminya secara sederhana saja. Ayat ini menandai kerasulan Muhamad SAW sebagai utusan Allah. Dalam jejak rekamnya, ayat ini diturunkan Allah kepada nabi Muhamad melalui malaikat Jibril. Ayat ini datang sebelum Muhamad ditugaskan untuk menyebarluaskan agama Islam yang berlandaskan ketauhidan: percaya dan menyerahkan diri kepada satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Hal ini jelas mengindikasikan bahwa Allah Sang Maha Esa mengingikan Muhamad untuk bisa membaca agar pesan-pesan-Nya dapat didakwahkan dan diterima oleh manusia lain. Pesan utama dari turunya ayat ini adalah bahwa ketakwaan harus dibangun denagn membaca. Kenapa membaca? jawabannya adalh tidak lain tidak bukan karena membaca (dan menulis) adalah aktifitas utama dalam upaya mencari ilmu pengetahuan dan pencerahan. Oleh karena itu, ketakwaan harus didasarkan pada ilmu. Hanya dengan menguasai ilmu tentang Allah-lah maka ketakwaan bisa terbangun. Ketakwaan yang tidak dikonstruksi dengan ilmu hanyalah sesuatu yang semu. Sesuatu yang tidak memiliki hirarki spiritual yang bermakna.
Pesan lain yang dari peristiwa turunnya ayat pertama ini adalah bahwa sebuah kebudayaan juga harus didasarkan pada aktifitas literat: membaca, menulis, meneliti. Setelah Muhamad menjadi literat, barulah beliau ditugaskan Allah Sang Maha Esa untuk menyebarluaskan tentang Islam sebagai rohmat kepada seluruh alam. Melalui perjuangan tanpa lelah selama dua abad lebih, Muhamad merubah kota Mekkah dan Madinah menjadi pusat peradaban dunia. Setelah beliau wafat pun, kegairahan umat Islam yang gandrung pada aktifitas baca-tulis-teliti terus berlanjut. ini dibuktikan dengan adanya penulisan hadits dan quran yang diinisiasi oleh para sahabat nabi dan para pengikutnya. Andalusia dan Persia adalah representasi sempurna di mana kebudayaan Islam berbasis literasi menjelma menjadi kejayaan Islam yang berlangsung hampir kurang lebih 500 tahun. Meskipun kebudayaan dan kejayaan Islam tidak lagi mendominasi warna dunia posmodern, kita masih tetap bisa melihat fakta bahwa bangsa berbasis literasi yang kental sekarang menjadi penguasa dunia. Tengoklah Amerika Serikat & Kanada, Eropa Barat, dan Australia. Meskipun bukan negara Islam, dengan mendasarkan aspek-aspek kehidupan lewat literasi yang kuat, para penduduk di negara-negara tersebut mampu menikmati kemakmuran dan kedigdayaan intelektual. Tidak mengherankan jika negara-negara tersebut menjadi ladang gula bagi para imigran dan pencari suaka yang bermimpi untuk mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik.
Dari sisi yang lain, saya melihat firman pertama yang Allah turunkan kepada nabi Muhamad itu sebagai penanda otoritas dan kekuasaan-Nya yang tidak berbatas. Firman tersebut digramatikalisasi dalam bentuk imperative (kalimat perintah). Dalam Pragmatics, tindak tutur (speech act) ini dikategorikan sebagai directive. Kalimat perintah yang dikonsruksi seperti ini memunculkan sebuah tafsiran spiritual baru bagi saya: Allah SWT secara tegas memabngun identitas-Nya sebagai sebuah entitas yang Maha Kuasa. Dalam sosiologi komunikasi, sebuah declarative yang dikonstruksi dengan sederhana seperti "Iqra" mengindikasikan dengan kuat bahwa si pembicara memiliki power yang (jauh) lebih besar daripada pendengar. Sebagai penguasa langit dan bumi, Allah memiliki kekuasaan yang tak berbatas. DIA memiliki hak penuh atas makhluknya. DIA memiliki hak penuh atas segala peristiwa yang ada di langit dan di bumi. DIA adalah penguasa dari segala penguasa. Raja dari segala raja.
Lalu, dari locution "Iqra!" ini, apa yang bisa kita pahami?
Dalam Pragmatik, yang menjadi bahasan utama sebuah tindak tutur adalah illocutionary act alias intensi dari ujaran yang diproduksi oleh si pembicara. Ilokusi dari firman pertama Allah kepada Muhamad adalah bahwa manusia (khusunya yang telah berikrar tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan-Nya) harus melandaskan hidup dan kehidupannya pada aktifitas baca-tulis-meneliti. Hanya dengan fondasi ilmu pengetahuanlah iman keimanan dan ketakwaan bisa terbangun dan terpelihara. Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah manusia mampu mencapai derajat kehidupan yang tinggi seperti janji Allah bahwa DIA akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Ini adalah sebuah janji Tuhan yang tidak mungkin DIA langgar. Lewat tindak tutur directive ini, Allah sebenarnya menegaskan bahwa kebahagiaan yang hakiki hanya bisa tercapai dengan menguasai ilmu pengetahuan. Tentu saja ilmu pengetahuan mesti didasarkan pada ilmu tentang Allah (Hakikat Allah sebagai penguasa langit dan bumi. Dengan memahami hakikat Allah, kita sebenarnya sedang berupaya untuk meretas jalan menuju tempat terindah di semesta: surga. Bacalah, bacalah, bacalah...
Sabtu, 28 November 2009
2012
2012.
Sebuah judul film yang singkat secara simbol. Film ini menguak tentang kehidupan manusia di planet Bumi yang akan berakhir pada tanggal 21-12-2012. Terinspirasi oleh kalender kuno bangsa Maya di Amerika Selatan, film ini memvisualisasikan sebuah bentuk kehancuran planet Bumi: multi tsunami yang terjadi di semua penjuru bumi. Film ini juga nampaknya terinspirasi oleh Noah's Arc karena ada sejenis kapal laut yang besar yang mampu mnampung ribuan orang agar terselamatkan dari bencana tsunami dan kehancuran masif di bumi. Dengan adanya kapal raksasa ini, spesies yang bernama manusia mampu melanjutkan kehidupan dengan kalender semesta yang baru. Inilah sebuah bentuk absurditas yang tidak bisa saya terima. Tak akan ada yang mampu menyelamatkan diri di hari kiamat. Ini yang aku sering dengar dari Al-Quran.
Jujur saja, awalnya aku tidak begitu tertarik akan film tersebut. Namun, saking seringnya aku melihat angka "2012" aku memiliki rasa penasaran yang kian lama kian menggurita. Judul film ini tersimbolisasi secara sederhana dalam bentuk numerik. Secara semiotika, judul film ini mengindikasikan dengan begitu kuat bahwa "akan ada sesuatu yang dahsyat akan terjadi pada tahun 2012". Untuk kepentingan publisitas, judul film tersebut dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan rasa penasaran yang begitu membuncah bagi (calon) penikmat film tersebut.
Dan setelah beres merayakan Iedul Qurban di Jumat pagi aku dan pasanganku berangkat menuju Studio 21 di Bandung Indah Plaza (BIP). Pada waktu itu kami membeli tiket untuk pemutaran film jam 3 karena sangat tidak mungkin bagiku untuk menonton film di saat shalat Jumat dilaksanakan. Kami menunggu lebih dari 30 menit untuk mendapatkan dua tiket film tersebut. Antrian yang panjang itu ternyata tak surut hingga kami meninggalkan BIP pada saat menjelang Magrib.
Banyak temanku yang bilang bahwa plot yang terbangun dalam film itu biasa-biasa saja. Tak ada hal yang menarik yagn bisa dinikmati dari film itu selain dari efek visual dan suara yang berkualitas wahid. Itu kata mereka. Tapi, aku tak sepenuhnya setuju. Ada dua hal yang menarik yang bisa aku gali dari pengalaman menonton film itu. Yang pertama, film itu menjadi referensi batin penting bagiku untuk meningkatkan tingkat spiritualitasku. Ia mengingatkan aku bahwa manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa. Manusia terhebat di dunia sekalipun tak akan bisa terhindar dari hari akhir. Sebagai seorang muslim, aku melihat film itu sebagai media pencerahan saja, tanpa harus percaya bahwa kiamat akan datang pada tanggan 21 Desember 2012. Kalaupun memenag kiamat akan datang pada hari yang diprediksiskan bangsa Maya itu, nampaknya sah-sah saja karena Allah punya hak istimewa untuk menentukan segalanaya. Tapi, pertanyaannya adalah bekal apa yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah kiamat? Kedua, sisi menarik dari film itu adalah kemampuan penulis cerita dalam menggabungkan data penelitian terbaru dengan visualisasi yang cerdas. Berdasarkan data geologis bumi yang aku baca pada beberapa edisi National Geographic, terutama yang membahas tentang perubahan iklim global dan Yellowstone National park, aku berkesimpulan bahwa sang penulis dan sutradara film itu telah secara tepat mengungkap fakta yang tak terbantahkan: bumi sudah menua karena daya dukung alamnya sudah hancur. Inilah salah satu kehebatan para sineas di Hollywood. Mereka melakukan penelitian yang intens mengenai sebuah fenomena sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk visual (film). Mereka tidak asal-asalan membuat naskah. Meskipun ada absurditas yang dimunculkan dalam film itu, aku melihatnya sebagai sebuah bentuk hiburan saja. Sisi fiksi dari sebuah fenomena bisa digali sejauh itu relevan. Apakah itu dapat diterima oleh beberapa kalangan agama tertentu, itu hal lain. Ketika sebuah film mendapat kritikan, maka ia layak mendapat pujian. Tak ada film atau artis yang layak dipuji kalau ia tak bisa atau tak mau dikritik. Ini adalah pernyataan yang pernah dibuat Halle Berry saat ia menerima penghargaan Oscar tiga tahun ke belakang.
pertanyaan yang muncul di benak saya adalah "kapan sineas kita bersandar pada data penelitian sebelum membuat film?" Saya selaly yakin bahwa pola pikir dan sikap ilmiah harus menjadi landasan dalam berkarya. Apapun bentuk karya itu. Sebuah karya yang dibangun lewat keilmiahan memiliki peran penting dalam hal pencerdasan bangsa. Semangat ilmiah inilah yang mesti kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan komersil ayng berorientasi pada uang sah-sah saja, namun seyognyalah kita memiliki tanggung jawab sosial dalam berkarya. Ini dapat direalisasikan dengan cara membuat karya-karya yang menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik dan melakukan aktifitas konkret untuk mendukung keberlangsungan dan keseimbangan bumi yang selama ini kita tempati. Lewat cara inilah sebuah karya akan melegenda. Ia akan diingat dan terus menerus diapresiasi oleh generasi-generasi manusia di masa yang akan datang.
Sebuah judul film yang singkat secara simbol. Film ini menguak tentang kehidupan manusia di planet Bumi yang akan berakhir pada tanggal 21-12-2012. Terinspirasi oleh kalender kuno bangsa Maya di Amerika Selatan, film ini memvisualisasikan sebuah bentuk kehancuran planet Bumi: multi tsunami yang terjadi di semua penjuru bumi. Film ini juga nampaknya terinspirasi oleh Noah's Arc karena ada sejenis kapal laut yang besar yang mampu mnampung ribuan orang agar terselamatkan dari bencana tsunami dan kehancuran masif di bumi. Dengan adanya kapal raksasa ini, spesies yang bernama manusia mampu melanjutkan kehidupan dengan kalender semesta yang baru. Inilah sebuah bentuk absurditas yang tidak bisa saya terima. Tak akan ada yang mampu menyelamatkan diri di hari kiamat. Ini yang aku sering dengar dari Al-Quran.
Jujur saja, awalnya aku tidak begitu tertarik akan film tersebut. Namun, saking seringnya aku melihat angka "2012" aku memiliki rasa penasaran yang kian lama kian menggurita. Judul film ini tersimbolisasi secara sederhana dalam bentuk numerik. Secara semiotika, judul film ini mengindikasikan dengan begitu kuat bahwa "akan ada sesuatu yang dahsyat akan terjadi pada tahun 2012". Untuk kepentingan publisitas, judul film tersebut dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan rasa penasaran yang begitu membuncah bagi (calon) penikmat film tersebut.
Dan setelah beres merayakan Iedul Qurban di Jumat pagi aku dan pasanganku berangkat menuju Studio 21 di Bandung Indah Plaza (BIP). Pada waktu itu kami membeli tiket untuk pemutaran film jam 3 karena sangat tidak mungkin bagiku untuk menonton film di saat shalat Jumat dilaksanakan. Kami menunggu lebih dari 30 menit untuk mendapatkan dua tiket film tersebut. Antrian yang panjang itu ternyata tak surut hingga kami meninggalkan BIP pada saat menjelang Magrib.
Banyak temanku yang bilang bahwa plot yang terbangun dalam film itu biasa-biasa saja. Tak ada hal yang menarik yagn bisa dinikmati dari film itu selain dari efek visual dan suara yang berkualitas wahid. Itu kata mereka. Tapi, aku tak sepenuhnya setuju. Ada dua hal yang menarik yang bisa aku gali dari pengalaman menonton film itu. Yang pertama, film itu menjadi referensi batin penting bagiku untuk meningkatkan tingkat spiritualitasku. Ia mengingatkan aku bahwa manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa. Manusia terhebat di dunia sekalipun tak akan bisa terhindar dari hari akhir. Sebagai seorang muslim, aku melihat film itu sebagai media pencerahan saja, tanpa harus percaya bahwa kiamat akan datang pada tanggan 21 Desember 2012. Kalaupun memenag kiamat akan datang pada hari yang diprediksiskan bangsa Maya itu, nampaknya sah-sah saja karena Allah punya hak istimewa untuk menentukan segalanaya. Tapi, pertanyaannya adalah bekal apa yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah kiamat? Kedua, sisi menarik dari film itu adalah kemampuan penulis cerita dalam menggabungkan data penelitian terbaru dengan visualisasi yang cerdas. Berdasarkan data geologis bumi yang aku baca pada beberapa edisi National Geographic, terutama yang membahas tentang perubahan iklim global dan Yellowstone National park, aku berkesimpulan bahwa sang penulis dan sutradara film itu telah secara tepat mengungkap fakta yang tak terbantahkan: bumi sudah menua karena daya dukung alamnya sudah hancur. Inilah salah satu kehebatan para sineas di Hollywood. Mereka melakukan penelitian yang intens mengenai sebuah fenomena sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk visual (film). Mereka tidak asal-asalan membuat naskah. Meskipun ada absurditas yang dimunculkan dalam film itu, aku melihatnya sebagai sebuah bentuk hiburan saja. Sisi fiksi dari sebuah fenomena bisa digali sejauh itu relevan. Apakah itu dapat diterima oleh beberapa kalangan agama tertentu, itu hal lain. Ketika sebuah film mendapat kritikan, maka ia layak mendapat pujian. Tak ada film atau artis yang layak dipuji kalau ia tak bisa atau tak mau dikritik. Ini adalah pernyataan yang pernah dibuat Halle Berry saat ia menerima penghargaan Oscar tiga tahun ke belakang.
pertanyaan yang muncul di benak saya adalah "kapan sineas kita bersandar pada data penelitian sebelum membuat film?" Saya selaly yakin bahwa pola pikir dan sikap ilmiah harus menjadi landasan dalam berkarya. Apapun bentuk karya itu. Sebuah karya yang dibangun lewat keilmiahan memiliki peran penting dalam hal pencerdasan bangsa. Semangat ilmiah inilah yang mesti kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan komersil ayng berorientasi pada uang sah-sah saja, namun seyognyalah kita memiliki tanggung jawab sosial dalam berkarya. Ini dapat direalisasikan dengan cara membuat karya-karya yang menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik dan melakukan aktifitas konkret untuk mendukung keberlangsungan dan keseimbangan bumi yang selama ini kita tempati. Lewat cara inilah sebuah karya akan melegenda. Ia akan diingat dan terus menerus diapresiasi oleh generasi-generasi manusia di masa yang akan datang.
Selasa, 24 November 2009
13 Tahun Lagi
13 tahun lagi aku akan genap berumur 40 tahun. Pada tanggal 31 Desember yang akan datang aku akan berusia 27 tahun. Ada sebentuk kesadaran yang mewujud dalam bentuk pernyataan sederhana: "hidup ini ternyata terasa begitu pendek". Rasanya baru kemarin sore aku bermain kasti dan sepak bola di lapangan kecil dan becek di dekat rumahku yang dulu. Rasanya baru kemarin aku merasakan menjadi juara karate. Rasanya baru kemarin sore aku bermain sebagai "King Creon" dalam drama Antigone...
Kini semua telah berubah...aku bukan lagi seorang anak kecil yang gemar berkelahi. Aku bukan lagi seorang anak lelaki yang selalu merengek ingin dibelikan bermacam-macam mainan. Kini aku telah bermetamorfosis menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki mimpi-mimpi besar. Kini aku adalah seorang lelaki yang tahu akan hak dan keajibannya. Aku tak lagi merengek untuk dibelikan mainan. Kini aku telah menyelsaikan studi masterku sebelum berusia 27 tahun. Kini aku sedang mempersiapkan untuk menjadi seorang suami dan ayah yang hebat bagi istri dan anak-anakku. Kini aku punya duniaku sendiri di mana aku punya otoritas menentukan arah dan jalan hidupku. Kini aku adalah salah satu orang yang paling beruntung di dunia:)....betapa semua berlalu dengan begitu cepat.
Tiga belas tahun lagi aku berumur 40 tahun. Kalimat ini terus mengiang di telingaku dalam beberapa terakhir. Mungkin ini disebabkan karena aku berkontemplasi terlalu jauh, merunut masa-masa yang telah aku lalui. Pepatah mengatakan bahwa hidup dimulai ketika kit aberumur 40 tahun. Pepatah ini nampaknya punya makna yang begitu mendalam bagiku. Kebermaknaan akan angka 40 tahun itu aku formulasikan dalam banyak pertanyaan: (1) Apa yang akan dan telah aku capai sebelum aku menginjak usia 40?; (2) Apa yang akan aku siapkan untuk diriku sendiri dan keluargaku selama 13 tahun itu?; (3) Apakah aku mampu menggondol gelar doktor (Ph.D) sebelum aku berusia 35 tahun?; (4) Di mana aku akan membangun rumah impian bagi aku dan keluargaku? (bukan rumah kecil yang kami miliki di kawasan Banjaran, Bandung); (5) Apakah aku mampu menglirkan DNA INKAI pada raga anak-anakku kelak (INKAI butuh penerus yang potensial); (6) Apakah anak-anakku mewarisi segala yang telah aku bangun dan cita-citakan bersama pasanganku?; (7) Apakah aku bisa menulis satu atau beberapa buku selama tiga belas tahun?; (8) Apakah aku bisa memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dengan peneliti asing dan mengikuti seminar di luar negeri sebelum aku beranjak 40 tahun?; (9) Apakah aku mampu memiliki gelar profesor sebelum aku berumur 45 tahun?
kesembilan pertanyaan ini telah mengakar kuat dalam batinku. Aku hanya memiliki satu harapan besar bahwa semua pertanyaan itu bisa aku jawab dan lalui dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Manusia hanya bisa berencana & Allahlah yang menentukan segalanya. Aku sangat meyakini hal ini. Namun, aku memiliki keyakinan besar bahwa bila semua usaha keras yang diiringi oleh doa dan ketulusan akan berbuah manis. Tak ada sedikit pun keraguan yang menghalangiku untuk menkmati semua proses kehidupan ini. Aku ingin merayakan setiap proses kehidupan ini dengan senyuman dan penyerahan total kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah.
Kini semua telah berubah...aku bukan lagi seorang anak kecil yang gemar berkelahi. Aku bukan lagi seorang anak lelaki yang selalu merengek ingin dibelikan bermacam-macam mainan. Kini aku telah bermetamorfosis menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki mimpi-mimpi besar. Kini aku adalah seorang lelaki yang tahu akan hak dan keajibannya. Aku tak lagi merengek untuk dibelikan mainan. Kini aku telah menyelsaikan studi masterku sebelum berusia 27 tahun. Kini aku sedang mempersiapkan untuk menjadi seorang suami dan ayah yang hebat bagi istri dan anak-anakku. Kini aku punya duniaku sendiri di mana aku punya otoritas menentukan arah dan jalan hidupku. Kini aku adalah salah satu orang yang paling beruntung di dunia:)....betapa semua berlalu dengan begitu cepat.
Tiga belas tahun lagi aku berumur 40 tahun. Kalimat ini terus mengiang di telingaku dalam beberapa terakhir. Mungkin ini disebabkan karena aku berkontemplasi terlalu jauh, merunut masa-masa yang telah aku lalui. Pepatah mengatakan bahwa hidup dimulai ketika kit aberumur 40 tahun. Pepatah ini nampaknya punya makna yang begitu mendalam bagiku. Kebermaknaan akan angka 40 tahun itu aku formulasikan dalam banyak pertanyaan: (1) Apa yang akan dan telah aku capai sebelum aku menginjak usia 40?; (2) Apa yang akan aku siapkan untuk diriku sendiri dan keluargaku selama 13 tahun itu?; (3) Apakah aku mampu menggondol gelar doktor (Ph.D) sebelum aku berusia 35 tahun?; (4) Di mana aku akan membangun rumah impian bagi aku dan keluargaku? (bukan rumah kecil yang kami miliki di kawasan Banjaran, Bandung); (5) Apakah aku mampu menglirkan DNA INKAI pada raga anak-anakku kelak (INKAI butuh penerus yang potensial); (6) Apakah anak-anakku mewarisi segala yang telah aku bangun dan cita-citakan bersama pasanganku?; (7) Apakah aku bisa menulis satu atau beberapa buku selama tiga belas tahun?; (8) Apakah aku bisa memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian dengan peneliti asing dan mengikuti seminar di luar negeri sebelum aku beranjak 40 tahun?; (9) Apakah aku mampu memiliki gelar profesor sebelum aku berumur 45 tahun?
kesembilan pertanyaan ini telah mengakar kuat dalam batinku. Aku hanya memiliki satu harapan besar bahwa semua pertanyaan itu bisa aku jawab dan lalui dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Manusia hanya bisa berencana & Allahlah yang menentukan segalanya. Aku sangat meyakini hal ini. Namun, aku memiliki keyakinan besar bahwa bila semua usaha keras yang diiringi oleh doa dan ketulusan akan berbuah manis. Tak ada sedikit pun keraguan yang menghalangiku untuk menkmati semua proses kehidupan ini. Aku ingin merayakan setiap proses kehidupan ini dengan senyuman dan penyerahan total kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah. Hidup ini indah.
Senin, 23 November 2009
Perjalanan
Malam ini aku akan melakukan perjalanan menuju Paris van Java alias Kota Kembang alias Bandung. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar kurang lebih tiga jam saja. Aku tidak ingat sudah berapa ratus kali aku melakukan perjalanan malam menuju Bandung dengan menggunakan layanan mobil travel. Udara yang dingin dan hujan yang menderu di malam sampai pagi hari tidak pernah menyurutkan aku untuk menikmati atmosfir di setiap perjalananku.
Kali ini tujuan perjalananku adalah untuk menghadiri sebuah seminar kebahasaan dan seni yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia, tempat di mana aku menggondol gelar undergraduate dan master. Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Rabu 25 November 2009 di Auditorium JICA. Nampaknya seminar ini akan berakhir di sore hari menjelang senja. Pada hari Kamis aku harus menemui direktur Balai Bahasa UPI untuk meneruskan pembicaraan mengenai MoU pelaksanaan TOEFL test di Universitas Kuningan. Setelah semua tugas ini beres, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk "cruising" alias jalan-jalan di Bandung. Acara jalan-jalan ini akan aku isi dengan mengunjungi Cihampelas Walk a.k.a Ciwalk dan Toko TIGA. Tujuan utama acara jalan-jalan ini adalah untuk menambah koleksi baju (khususnya M-Gee dan Watchout) dan koleksi buku-ku. Ini sudah menjadi rutinitas yang wajib ditunaikan.
Yang membuat perjalanan ini sedikit berbeda adalah bahwa keikutsertaanku di seminar ini merupakan tugas tambahan dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris UNIKU. Jadi, aku membawa bendera UNIKU dalam perhelatan ilmiah ini. Selama aku menuntut ilmu di jenjang master di universitas ini aku beberapa kali terlibat dalam seminar internasional baik sebagai peserta maupun pembicara dengan mengatasnamakan Sekolah Pascasarjana UPI, bukan UNIKU.
Pada seminar kali ini aku berstatus sebgai peserta, bukan pembicara karena seminar ini bukan merupakan seminar yang bersifat terbuka (tidak ada parallel session seperti di Conference on Applied Linguistics yang pernah aku ikuti). Aku berharap bisa menemukan pencerahan baru dalam bidang kebahasaan dan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia (TEFL). Tak ada hal yang lebih menarik bagiku selain mendapatkan pencerahan dan pengalaman baru dari setiap perjalanan dan aktifitas yang aku laksanakan.
Setiap perjalanan, layaknya hidup ini, harus memiliki tujuan. Tanpa tujuan yang jelas sebuah perjalanan akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Aku merasa sangat beruntung karena sampai saat ini aku masih diberikan banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan destinasi dan kepentingan yang beragam. Ini tentu saja membuatku memiliki kesempatan untuk menambah kapasitas "experiential knowledge" yang aku miliki, bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, dan meningkatkan kesadaran empirisku baik sebagai individu maupun sebagai dosen yang memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap dunia penelitian. Sebuah perjalanan selalu bermakna bagiku. Tak ada hal yang lebih indah selain melakukan sebuah perjalanan yang diiringi rasa cinta akan kehidupan...SEMOGA
Kali ini tujuan perjalananku adalah untuk menghadiri sebuah seminar kebahasaan dan seni yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia, tempat di mana aku menggondol gelar undergraduate dan master. Seminar ini akan dilaksanakan pada hari Rabu 25 November 2009 di Auditorium JICA. Nampaknya seminar ini akan berakhir di sore hari menjelang senja. Pada hari Kamis aku harus menemui direktur Balai Bahasa UPI untuk meneruskan pembicaraan mengenai MoU pelaksanaan TOEFL test di Universitas Kuningan. Setelah semua tugas ini beres, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk "cruising" alias jalan-jalan di Bandung. Acara jalan-jalan ini akan aku isi dengan mengunjungi Cihampelas Walk a.k.a Ciwalk dan Toko TIGA. Tujuan utama acara jalan-jalan ini adalah untuk menambah koleksi baju (khususnya M-Gee dan Watchout) dan koleksi buku-ku. Ini sudah menjadi rutinitas yang wajib ditunaikan.
Yang membuat perjalanan ini sedikit berbeda adalah bahwa keikutsertaanku di seminar ini merupakan tugas tambahan dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris UNIKU. Jadi, aku membawa bendera UNIKU dalam perhelatan ilmiah ini. Selama aku menuntut ilmu di jenjang master di universitas ini aku beberapa kali terlibat dalam seminar internasional baik sebagai peserta maupun pembicara dengan mengatasnamakan Sekolah Pascasarjana UPI, bukan UNIKU.
Pada seminar kali ini aku berstatus sebgai peserta, bukan pembicara karena seminar ini bukan merupakan seminar yang bersifat terbuka (tidak ada parallel session seperti di Conference on Applied Linguistics yang pernah aku ikuti). Aku berharap bisa menemukan pencerahan baru dalam bidang kebahasaan dan pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia (TEFL). Tak ada hal yang lebih menarik bagiku selain mendapatkan pencerahan dan pengalaman baru dari setiap perjalanan dan aktifitas yang aku laksanakan.
Setiap perjalanan, layaknya hidup ini, harus memiliki tujuan. Tanpa tujuan yang jelas sebuah perjalanan akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Aku merasa sangat beruntung karena sampai saat ini aku masih diberikan banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan dengan destinasi dan kepentingan yang beragam. Ini tentu saja membuatku memiliki kesempatan untuk menambah kapasitas "experiential knowledge" yang aku miliki, bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, dan meningkatkan kesadaran empirisku baik sebagai individu maupun sebagai dosen yang memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap dunia penelitian. Sebuah perjalanan selalu bermakna bagiku. Tak ada hal yang lebih indah selain melakukan sebuah perjalanan yang diiringi rasa cinta akan kehidupan...SEMOGA
Minggu, 22 November 2009
Satu Hari Saja
Satu hari saja biarkan aku merayakan kesendirianku. Tak ada rutinitias perkerjaan yang membelenggu. Tak ada teksbuk linguistik yang "meminta" tuk dibaca. Tak ada jadwal melatih karate yang melelahkan raga. Satu hari saja biarkan aku menikmati sebentuk kehidupan yang soliter. Dengan menyendiri aku bukan hanya ingin sejenak menghela nafas dari sejuta aktifitas yang menggunung di minggu kemarin, tapi juga ingin mengenal dan menggali lebih dalam siapa diriku ini.
Hari ini aku ingin melakukan hal-hal sederhana yang selama dua mingu ini sedikit terabaikan: menyapu halaman rumah, membersihkan kandang kelinciku, memberi makan keedua kelinciku dan seekor burung hantu jenis Tyto Alba yang baru saja menghuni kadang di rumahku sejak dua hari yang lalu, membuang dan membakar sampah yang menggunung di dekat pelataran pemakaman desa. Kegiatan-kegiatan sederhana lain yang aku sangat rindukan adalah membaca majalah National Geographic dan Sport Week edisi terbaru sambil ditemani jus jeruk atau strawberry dan musik alternative rock yang menderu dengan dinamis.
Kegiatan-kegiatan sederhana ini telah mengisi hari-hariku dan menjadi sebuah rutinitas wajib sejak aku tinggal di Bandung. Di sela-sela aktifitasku biasanya aku menghabiskan waktu di sungai atau hutan kecil hanya untuk menikmati sebentuk kehidupan liar yang kian tergerus oleh pemanasan global. Dengan melakukan banyak kegiatan sederhana ini aku semakin bisa menikmati hidupku. Tak perlulah aku pergi ke mall atau diskotik. Yang aku inginkan hanyalah sebentuk aktifitas soliter yang menyenangkan di satu hari saja.
Pekerjaanku sebagai dosen cukup demanding. Untuk menghasilkan sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi aku harus menginvestasikan begitu banyak waktu untuk belajar dan berlatih. Tanpa sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi tidak mungkin ada harapan untuk menciptakan sebuah generasi yang lebih baik. Selain itu, aku juga diwajibkan untuk mmeriksa tugas-tugas mahasiswa yang bertumpuk bagai cucian kotor saja. Sangat melelahkan memang. Untuk melihat keberhasilan sebuah proses pembelajaran, aku harus melihat proses mahasiswa belajar dengan memberikan tugas yang sifatnya "staged" atau bertahap. Ini memungkinkan aku mengukur dan menganalisa tingkat pemahaman mereka secara lebih mendalam. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah pekerjaan yang berat. Ketika ada sekitar 400-an "paper" atau makalah pendek menumpuk di meja kerjaku, aku hanya bisa tersenyum lirih dan berbisik pada diriuku sendiri: "kapan aku bisa menyelesaiakn pekerjaan yang membutuhkan kerja keras otak ini ?" Setelah memebereskan tugas akademik seperti ini aku merasa begitu lelah. Tingkat kelelahannya melebihi berlatih karate selama 3 jam. Bila kelelahan telah mewujud, tidur saja tidak cukup untuk memulihkan staminaku. Aku butuh satu hari saja untuk "memanjakan" jiwa dan ragaku. Ketika raga ini telah mencapai titik keseimbangan yang baru, maka aku siap untuk berpacu dengan waktu. Aku pun tak ragu untuk menikmati untaian konsep-konsep linguistik yang membutuhkan daya pikir yang luar biasa berat. Satu hari saja, izinkan aku menikmati duniaku.
Hari ini aku ingin melakukan hal-hal sederhana yang selama dua mingu ini sedikit terabaikan: menyapu halaman rumah, membersihkan kandang kelinciku, memberi makan keedua kelinciku dan seekor burung hantu jenis Tyto Alba yang baru saja menghuni kadang di rumahku sejak dua hari yang lalu, membuang dan membakar sampah yang menggunung di dekat pelataran pemakaman desa. Kegiatan-kegiatan sederhana lain yang aku sangat rindukan adalah membaca majalah National Geographic dan Sport Week edisi terbaru sambil ditemani jus jeruk atau strawberry dan musik alternative rock yang menderu dengan dinamis.
Kegiatan-kegiatan sederhana ini telah mengisi hari-hariku dan menjadi sebuah rutinitas wajib sejak aku tinggal di Bandung. Di sela-sela aktifitasku biasanya aku menghabiskan waktu di sungai atau hutan kecil hanya untuk menikmati sebentuk kehidupan liar yang kian tergerus oleh pemanasan global. Dengan melakukan banyak kegiatan sederhana ini aku semakin bisa menikmati hidupku. Tak perlulah aku pergi ke mall atau diskotik. Yang aku inginkan hanyalah sebentuk aktifitas soliter yang menyenangkan di satu hari saja.
Pekerjaanku sebagai dosen cukup demanding. Untuk menghasilkan sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi aku harus menginvestasikan begitu banyak waktu untuk belajar dan berlatih. Tanpa sebuah pengajaran yang berkualitas tinggi tidak mungkin ada harapan untuk menciptakan sebuah generasi yang lebih baik. Selain itu, aku juga diwajibkan untuk mmeriksa tugas-tugas mahasiswa yang bertumpuk bagai cucian kotor saja. Sangat melelahkan memang. Untuk melihat keberhasilan sebuah proses pembelajaran, aku harus melihat proses mahasiswa belajar dengan memberikan tugas yang sifatnya "staged" atau bertahap. Ini memungkinkan aku mengukur dan menganalisa tingkat pemahaman mereka secara lebih mendalam. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah pekerjaan yang berat. Ketika ada sekitar 400-an "paper" atau makalah pendek menumpuk di meja kerjaku, aku hanya bisa tersenyum lirih dan berbisik pada diriuku sendiri: "kapan aku bisa menyelesaiakn pekerjaan yang membutuhkan kerja keras otak ini ?" Setelah memebereskan tugas akademik seperti ini aku merasa begitu lelah. Tingkat kelelahannya melebihi berlatih karate selama 3 jam. Bila kelelahan telah mewujud, tidur saja tidak cukup untuk memulihkan staminaku. Aku butuh satu hari saja untuk "memanjakan" jiwa dan ragaku. Ketika raga ini telah mencapai titik keseimbangan yang baru, maka aku siap untuk berpacu dengan waktu. Aku pun tak ragu untuk menikmati untaian konsep-konsep linguistik yang membutuhkan daya pikir yang luar biasa berat. Satu hari saja, izinkan aku menikmati duniaku.
Jumat, 20 November 2009
KLa
Ya KLa Project, atau sekarang trio Katon Lilo Adi ini menamakan kebersamaan dirinya dengan nama "KLa Returns". KLa adalah band Indonesia pujaanku sejak aku berumur 13 tahun. Jadi selama ini aku telah menjadi salah satu fans berat mereka selama kurang lebih 14 tahun. Sebuah loyalitas yang dahsyat bukan untuk seorang fans bukan? :)Aku bahkan punya semua koleksi CD dan kaset KLa (ga boong lho!)
Di permulaan minggu ini tiba-tiba saja hati ini terketuk untuk memutar lagu-lagu hits KLa. Malahan minggu ini aku tak tergerak untuk memanjakan inderaku dengan iringan musik dari band lain (selama kurang lebih dua tahun ini aku memperluas genre musikku. Saban pagi, siang, dan petang, aku menyempatkan diri untuk menikmati alunan musik KLa yang dinamis bercampur dengan lirik lagu yang puitis. Tak ada yang lebih indah selain mendengarkan lagu KLa:) Aku tak mengerti kenapa pula jari-jari ini nampak tergerak begitu saa untuk menuliskan sesuatu tentang KLa. Apa mungkin ini disebabkan karena KLa akan menggelar konser akbar lagi di akhir tahun ini (red: 4 Desember 2009)? Konser tersebut kabarnya merupakan simbolisasi kembalinya Lilo kedalam formasi KLa yang selama ini kita kenal. Konser ini juga menandai kiprah bermusik mereka di Indonesia selama kurang lenih 20 tahun. Entahlah. Aku hanya kangen berat sama lagu-lagu KLa...
Ketika aku berumur 13 tahun (kelas satu SMP) aku untuk pertama kalinya jatuh cinta pada musik KLa. Padahal, saat itu teman-teman sebayaku sedang gandrung sama lagu-lagu Slank, Gigi, dan Dewa 19. Aku satu-satunya siswa di kelasku yang jatuh cinta pada KLa. Nampaknya aku tak salah menjatuhkan pilihanku.
Sejak musik KLa mengisi deru hidupku aku mampu menjalani dinamika hidup dengan lebih positif. Kata-kata yang puitis dan romantis ternyata malah membuatku semakin mempertajam kapasitas berbahasaku. Musik yang lembut ternyata tidak membuatku "lebai". Ada nuansa yang begitu dinamis dalam musik KLa yang membuatku tidak pernah bosan dengan mendengarkan lagu-lagunya. KLa menyuguhkan musik yang memang sesuai dengan atmosfer jiwaku. Inilah yang membuatku tak bisa melupakan KLa.
Suatu saat kelak akan kuperdengarkan lagu-lagu KLa pada anak-anakku, Shanindya dan Beryl. Semoga saja KLa bisa terus berkarya tanpa lelah. Aku ingin karya-karya mereka menemani setiap perjalanan kehidupanku ke manapun aku pergi, ke mana pun aku berpetualang hingga tulang ini merapuh...semoga
Di permulaan minggu ini tiba-tiba saja hati ini terketuk untuk memutar lagu-lagu hits KLa. Malahan minggu ini aku tak tergerak untuk memanjakan inderaku dengan iringan musik dari band lain (selama kurang lebih dua tahun ini aku memperluas genre musikku. Saban pagi, siang, dan petang, aku menyempatkan diri untuk menikmati alunan musik KLa yang dinamis bercampur dengan lirik lagu yang puitis. Tak ada yang lebih indah selain mendengarkan lagu KLa:) Aku tak mengerti kenapa pula jari-jari ini nampak tergerak begitu saa untuk menuliskan sesuatu tentang KLa. Apa mungkin ini disebabkan karena KLa akan menggelar konser akbar lagi di akhir tahun ini (red: 4 Desember 2009)? Konser tersebut kabarnya merupakan simbolisasi kembalinya Lilo kedalam formasi KLa yang selama ini kita kenal. Konser ini juga menandai kiprah bermusik mereka di Indonesia selama kurang lenih 20 tahun. Entahlah. Aku hanya kangen berat sama lagu-lagu KLa...
Ketika aku berumur 13 tahun (kelas satu SMP) aku untuk pertama kalinya jatuh cinta pada musik KLa. Padahal, saat itu teman-teman sebayaku sedang gandrung sama lagu-lagu Slank, Gigi, dan Dewa 19. Aku satu-satunya siswa di kelasku yang jatuh cinta pada KLa. Nampaknya aku tak salah menjatuhkan pilihanku.
Sejak musik KLa mengisi deru hidupku aku mampu menjalani dinamika hidup dengan lebih positif. Kata-kata yang puitis dan romantis ternyata malah membuatku semakin mempertajam kapasitas berbahasaku. Musik yang lembut ternyata tidak membuatku "lebai". Ada nuansa yang begitu dinamis dalam musik KLa yang membuatku tidak pernah bosan dengan mendengarkan lagu-lagunya. KLa menyuguhkan musik yang memang sesuai dengan atmosfer jiwaku. Inilah yang membuatku tak bisa melupakan KLa.
Suatu saat kelak akan kuperdengarkan lagu-lagu KLa pada anak-anakku, Shanindya dan Beryl. Semoga saja KLa bisa terus berkarya tanpa lelah. Aku ingin karya-karya mereka menemani setiap perjalanan kehidupanku ke manapun aku pergi, ke mana pun aku berpetualang hingga tulang ini merapuh...semoga
Langganan:
Komentar (Atom)