Selamat pagi semesta. Pagi ini dihiasi oleh iringan orkestra hujan yang begitu memanjakan jiwa dan ragaku. Konduktor orkestrasi pagi ini dipimpin oleh malaikat yang ditugasi Sang Maha Cinta. Para musisi yang terlibat dalam orkestrasi itu bukan saja para malaikat yang berjaga dari senja hingga pagi menjelang tapi juga para burung malam yang pulang kesiangan dan para burung pagi yang bangun sedikit kesiangan. Burung-burung itu melantunkan pujian kepada Sang Maha Cinta seraya merayakan kegembiraan mereka atas berkah kehidupan yang selama ini mereka nikmati. Orkestrasi hujan yang diiringi nyanyian para burung tersebut membuat pagi yang dingin ini menjadi terasa sangat indah. Begitu memukau. Begitu menyentuh jiwa. Orkestrasi ini tak ada duanya.
Orkestrasi alam ini adalah musik terindah yang pernah aku dengar selama aku menempati rumah baruku yang berlokasi di kawasan Sidaraja. Orkestrasi ini adalah sebuah keajaiban pagi yang jarang terdengar. Dalam udara dingin yang menyelimuti Sidaraja, para makhluk itu bersukacita menyambut hari yang baru. Mereka selalu bersukacita merayakan kehidupan tanpa pernah sekalipun mengeluh. Mereka nampaknya turut bersukacita atas kehadiranku di Sidaraja. Mereka pun nampaknya ikut merayakan atas apa yang akan aku lalui tujuh hari lagi.
Tujuh hari dari sekarang, tepatnya tanggal 12 Desember 2009, aku dan Mel akan ditasbihkan sebagai sepasang suami istri yang terikat janji-janji pernikahan suci yang wajib kami tepati. Akhirnya hari yang sakral nan indah itu datang menghiasi kami. Setelah akad nikah berlangsung, maka kami berdua akan berdiri di tahta suci kehidupan untuk membuktikan kepada dunia bahwa kami selama ini telah berhasil menyemai benih-benih kasih meskipun kami kerap kali terpisah jarak dan waktu. Pada hari yang sakral itu kami mengikrarkan diri sebagai manusia yang punya fitrah untuk saling mencintai satu sama lain. Segala kewajiban dan hak yang akan kami pikul telah terangkum dalam buku kehidupan yang kami simpan dalam kalbu kami. Kalendar kehidupan kami akan terlalui dengan derai tawa bahagia. Meskipun badai mungkin menghadang, kami kan selalu menatap dunia dengan penuh harap seraya berbuat yang terbaik untuk meraih apa yang telah kami cita-citakan selama ini.
Setelah hari sakral itu aku dan Mel akan memasuki gerbang kehidupan baru sebagai sepasang pecinta yang selalu mengharap keberkahan dari Sang Maha Cinta. Kami berdua akan bahu membahu mengarungi samudera kehidupan yang begitu luas. Dengan penuh harapan dan doa, kami berdua akan mengarahkan biduk kehidupan kami menuju tanah-tanah impian: Australia, Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Karena hidup ini begitu singkat, sejak dulu kami bercita-cita bahwa kami harus menginjakkan kaki-kaki kami dan anak-anak kami, Shanindya dan Beryl, di tanah-tanah impian tersebut. Kami ingin mereguk kehidupan dalam dimensi ruang dan zona waktu yang berbeda agar kami mampu memahami keterbatasan kami sebagai manusia. Kami ingin menikmati aroma ilmu pengetahuan di tnaah-tanah impian tersebut agar piramida pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki menjadi jauh lebih sempurna. Kami ingin menikmati ritme kehidupan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda agar kami bisa merasakan kebesaran Sang Maha Cinta.
Ketika kami telah memiliki banayak kesempatan untuk menyempurnakan piramida pengetahuan kami, kami akan kembali ke tanah tempat kami dulu dilahirkan dan dibesarkan. Kami akan membagikan cerita kepada orang-orang bahwa setiap jenis kehidupan adalah keindahan yang tiada tara. Segala perbedaan yang telah kami temui di tanah-tanah impian adalah sebuah berkah yang tak ada duanya. Kami ingin berbagi cerita tentang kehidupan. Ketika kami di usia senja nanti, kami akan menceritakan hal yang sama kepada anak cucu kami. Kami pun berharap mereka dapat meneruskan perjalanan kami yang mungkin belum sepenuhnya terselesaikan.
Gerbang kehidupan baru ini memberi kami energi yang begitu besar untuk menatap kehidupan dengan penuh keberanian. Kami tak pernah takut untuk bermimpi karena mimpi-mimpi itulah yang ternyata menjadi sulut kehidupan kami. Kami tak pernah ragu atas apa yang Sang Maha Cinta telah berikan kepada kami. Sedikitpun kami tak pernah gentar menghalau badai yang menghadang. Dengan sebuah penyerahan penuh kepada Sang Maha Cinta, kami gantungkan segala apa yang kami rasakan dan pikirkan kepada-Nya. Semoga gerbang baru kehidupan yang akan kami lalui membimbing kami untuk menemukan cahaya-cahaya kehidupan yang baru. Bestralen....amen...
Jumat, 04 Desember 2009
Langganan:
Komentar (Atom)